Tampilkan postingan dengan label Mari Merenung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mari Merenung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Maret 2017

MerindukanMu

Tidak terasa satu bulan telah berlalu setelah kepulangan kami sekeluarga dari tanah suci. Senang sekali rasanya dapat berkunjung ke rumah Allah yang selalu ramai diperbincangkan oleh banyak orang, semua masih terasa seperti mimpi! Didalam kerinduan yang kini tengah menggelayuti, bersamaan dengan alunan suara dari masjid, izinkan dan perkenankanlah aku untuk berbagi cerita sekaligus mengenang perjalanan kami di tanah suci.

Kami mengijakkan kaki pertama kali di Madinah pada sekitar pukul 10 malam. Baru saja selesai melewati imigrasi, setelah membuka tumpukan pesan di sosial media aku harus berurusan dengan nilai. Duh, sungguh membuatku khawatir, mengapa ketika aku telah nun jauh dari file tumpukan tugas ujian akhir aku masih harus memikirkan nilaiku yang kosong. Padahal tugas ujian akhir tersebut telah kukumpulkan pada saat jatuh temponya, tidak terlambat barang sedetik pun. Ah, sungguh dinyana, belum juga sehari kenapa sudah ada saja persoalan yang menghampiri. Hingga lupa oleh waktu, pada malam itu juga aku yang mudah terserang gupuh, seketika menghubungi dosen yang bersangkutan,.Meski aku tahu bahwa waktu di tanah air masih tepat untuk beristirahat. Untung bukan diuntung, aku masih memiliki berkas file tersebut ketika mengirim ke seorang teman.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kami pun tiba di hotel sekitar pukul 2 dini hari. Setelah berbenah sebentar, pada pukul 3 kami mulai berjalan untuk ke Masjid Nabawi. Diterpa angin sedingin apapun rasanya tidak terasa, yang ada hanya senyum terpulas di wajah melihat begitu indahnya Nabawi di tengah malam begini. 

Sehari-hari, bila mampu, aku lebih memilih untuk menunaikan sholat 5 waktu di masjid ketimbang di hotel. Ya, bila mampu. Karena pada suatu waktu badan ini terasa begitu pegal karena efek dua hari setelah kedatangan aku sama sekali belum merebahkan badan ke pulau kapuk. Selain karena dihari pertama 5 kali bolak-balik hotel dan masjid dan siangnya mengunjungi beberapa tempat, kemudian malam harinya disusul dengan kami mengunjungi Raudhah, mimbar yang digunakan Rasul SAW untuk berkhutbah, dan baru selesai hingga pukul 1 pagi. Alhasil, punggungku sakit luar biasa. Dibuat jalan seolah tak mampu. Aku seperti membutuhkan penyangga yang memampukanku berjalan dengan kondisi punggung seperti ini. Siangnya aku sudah sedikit enakan usai Ibu memijatku (yang hingga buatku meringis bahkan menangis kesakitan).

Namun, itulah yang dinamakan cultur shock. Aku belum terbiasa berjalan 5 kali dalam sehari untuk bolak-balik hotel ke masjid. Di tanah air pun, aku lebih banyak menunaikan ibadahku di rumah. Setelah hari kedua, ketiga, keempat aku sudah mulai terbiasa dengan ritme waktu sholat dan perjalanan 5 kali sehari itu. Meski terkadang lelah, tetapi kenikmatan ketika telah berada di Nabawi terbayarkan sudah. Entahlah, tapi selalu muncul perasaan nyaman setiap kali aku menunaikan sholat di Nabawi. Seolah ada energi positif yang menyentuh batinku. Sehingga, berada di Nabawi adalah juga sekaligus sebagai ajang untuk berkontemplasi.

Waktu subuh adalah bagian terfavorit ketika berada di Madinah. Subuhku tidak pernah seindah saat berada di Nabawi. Dingin yang berusaha menembus tiap lapisan kulit, yang meski telah tertutup oleh berlapis-lapis pakaian, bukan lagi sebuah perkara. Setiap selesai menuntaskan sholat subuh, aku keluar dari Nabawi dengan senyum sumringah melihat hasil karya Allah. Ia melukiskan langit pagi yang indah di bumi angkasa Madinah. Lukisan itu begitu indah, ia terdiri dari semburat jingga dan gelap malam yang masih tersisa. Sebuah pagi terindah yang barangkali baru pertama kali ini aku temukan di belahan bumi ini.

Di Makkah, terkhususkan saat di Masjidil Haram, energi yang kurasakan berbeda dengan saat di Nabawi. Jika di Nabawi aku menemukan perasaan damai dan sejuk, maka di Masjidil Haram seolah rasanya aku ingin runtuh. Ya, ingin runtuh, karena aku tak kuasa. Aku yang begini, sebagai makhluk Allah yang masih banyak dilumuri dosa-dosa, malu rasanya ketika bersimpuh di rumahNya. Ingin aku memohon untuk dilepaskan dari segala keburukan yang mampu menghalangi jalanku untuk tetap lurus berada dalam koridorNya.

Saat mengelilingi sebuah kubus yang diselimuti kiswah berwarna hitam dengan hiasan lafal Qur'an berwarna emas, aku terpaku. Benda yang selama ini hanya bisa kusaksikan dari dunia maya kini berada persis didepan mataku. Menangis pun aku tak bisa, apalagi untuk berbicara, tersenyum bahkan tertawa, aku seolah sudah mati rasa. Sebagai seorang makhluk ciptaanNya, aku merasa begitu kecil berada dalam lautan manusia yang sedemikian rupa. Aku takjub melihat bagaimana manusia dari seluruh dunia yang berhiaskan perbedaan dipertemukan disini dengan saudara sesama muslim dan bagaimana mereka senantiasa mengingat, memohon ampun serta memanjatkan doa kepada Allah.

Ketika memiliki kesempatan untuk menyentuh Ka'bah seolah ada daya magis yang membuatku runtuh untuk kesekian kali. Sudah kaki ini runtuh, kali ini yang terserang adalah air mata. Tidak terasa air mata ini terus berlinangan memohon ampun ketika menyentuh rumahNya. Masih diberikan nafas dan kesehatan di setiap detik olehNya adalah sebuah karunia luar biasa yang sudah sepatutnya untuk disyukuri, terlebih kenikmatan dan rezeki lain yang sudah diberi. Sungguh tak pantas aku sebagai manusia jika masih ingin egois dalam perkara duniawi, ketika kita sendiri sesungguhnya sama di mata Allah. Pun, saat kita kembali nanti yang membedakan kami hanyalah sebuah ketaqwaan, bukan harta emas berlian ataupun uang yang bergelimangan. 

Doa yang kupanjatkan pun tak lebih dari sederhana selain hanya untuk memohon agar sekeluarga senantiasa diberikan kesehatan dan berada dalam perlindungan. Doa printil-printilan urusan pribadi juga tidak terlewatkan, mengingat masih banyak yang harus aku tuntaskan sebagai manusia. Karena seperti yang disampaikan Buya Hamka, jika hanya sekedar hidup dan kerja maka binatang pun bisa. Namun aku manusia, yang sejatinya diciptakan dengan pemberian akal pikiran, dan karenanya setidak-tidaknya seperti sebuah hadist, aku dapat memberikan manfaat kepada orang lain.

Dalam gelungan subuh yang sejuk nan mesra aku kembali berdoa, agar dapat diberikan lagi kesempatan untuk berkunjung ke rumahNya. Sekiranya aku akan kembali tidak sendiri, tidak pula bersama orang-orang yang di tahun ini telah menemani. Semoga, aku akan kembali dengan keluarga kecil dan Imam baruku nanti. Aamiin...

damai pagi di Nabawi yang selalu kurindukan

Selamat hari Jum'at, jangan lupa awali hari dengan senyum dan doa. See you on next post ^^

Minggu, 17 Januari 2016

Psst, yuk mari mendengar

"Eeeh dengerin aku dong, jangan sibuk sama hp mulu" *goyang2in tangan lawan bicara* *pasang muka cemberut*

Sering nggak sih kita denger kalimat seperti diatas? Biasanya kalimat tersebut terlontar saat kita sedang asyik berbicara ternyata lawan bicara kita tidak memperhatikan kita. Banyak sih faktor yang membuat lawan bicara jadi nggak fokus dengan apa yang sedang kita bicarakan. Misal, karena kondisi sekitar yang ramai, lawan bicara sedang melamun atau...mereka justru fokus pada gadget mereka. Bete kan? Nah ini nih yang sekarang sering terjadi di kehidupan kita.

Sekitar tiga bulan yang lalu, yaitu tepatnya tanggal 20 Oktober 2015 saya mengikuti UTS pertama saya sebagai mahasiswa. Hari itu saya akan ujian Pengantar Ilmu Komunikasi (PIK) secara lisan. Dag dig dug belalang kuncup sih sudah pasti. Seminggu saya belajar mati-matian untuk memahami setiap deretan huruf di kitab mahasiswa ilkom yaitu Komunikasi: Suatu Pengantar milik pak Deddy Mulyana. Saya menghafal seabrek soal beserta jawaban (dari materi di buku) yang mungkin akan saya dapat. Dan ternyata ketika ujian, nomor undian yang saya ambil berisikan sebuah pertanyaan logika. Dialog antara saya dengan penguji jujur masih terasa membekas, kira-kira seperti ini, P: Penguji; S: Saya :

P: 'apa yang dimaksud dengan keterampilan berkomunikasi?'
S: 'terampil berkomunikasi adalah bla3x (jelasin tentang bicara tahu konteks ruang waktu, siapa lawan bicara, dan menyampaikan pesan dengan cara yang tepat)'
P: 'udah itu aja?'
S: *mikir keras* 'ah ya Mba, mendengarkan! Mendengarkan itu juga gak kalah penting bla3x'
P: 'oh gitu...terus menurutmu, apa kamu sudah terampil dalam berkomunikasi?'
S: *tertegun* *nelan ludah* *dalam hati tanya: 'iya ya, udah belum sih aku terampil berkomunikasi? seperti jawabanku tadi...' 
setelah beberapa detik terdiam akhirnya saya menjawab 'belum Mba, karena saya masih banyak berbicara daripada mendengar orang lain'

Ya kurang lebihnya begitulah... Saat keluar dari ruang ujian senang karena saya dapat pertanyaan logika dan bukan hafalan. Tapi...jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi hal yang sampai saat ini masih saya pikirkan. Jawaban saya yang mengatakan bahwa terampil berkomunikasi adalah mengenai berbicara dan mendengar, membuat saya terus mengintropeksi diri. Terlebih saat saya mengatakan bahwa saya masih lebih banyak berbicara daripada mendengar. Lalu munculah pertanyaan dalam hati saya, sudahkah saya berbicara dengan tepat? Sudahkah saya mendengar apa kata orang lain? Karena keresahan itulah saya menulis ini. Dengan harapan kita dapat menjadi pendengar yang lebih baik.

Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak ingin didengar? Secara pribadi saya yakin bahwa setiap manusia ingin setiap kata yang ia ucap didengarkan oleh lawan bicara? Kenapa sih manusia ingin didengar? Karena simpel aja, manusia ingin apa yang ia pikir dan rasakan dapat dipahami oleh orang lain. Ya, sesimpel itu.

Tapi sadly to say...sering terjadi saat kita berbicara lawan bicara tidak memperhatikannya. Hingga kita perlu mengulangi kembali pesan yang telah disampaikan. Seperti yang telah ditulis diatas, salah satu faktor penyebab adalah gadget. Yap...a little thing that help your life much but create a new problem also. 

Gadget is like a coin who have two sides, the good and bad ones. Gadget and internet really a delicious and legit combination in this 20s era. They give anything you want to know. They can even help you, like help to finish your task (don't denied it, because I also did). And... you can find happiness from your gadget. Online music player, games, social media etc. Ain't that interesting uh? But in the other side, I believe that most of you probably will spend your time with gadget (esp if you have large quota to access an internet) http://www.laptopmag.com/images/wp/purch-api/incontent/2013/03/gadgets_sf1.jpg

Have you ever realized if you always on your gadget, it'll bring a bad effect...not only for you, but also people around you. When you don't put your attention while communicating with others, they might mad at you. Don't get mad at them back because that's your fault not to listen them carefully. Well to make it easier, let's change your position as you were them. 

Mengutip quote ala ala tumblr,
Quote tersebut menarik untuk diterapkan pada saat kita berkomunikasi. Karena saya senang untuk didengarkan, maka sejak UTS kemarin saya punya satu mindset baru yaitu, 'saya harus juga menjadi pendengar yang baik bagi lawan bicara saya. Siapapun itu. Dan apapun yang ingin mereka bicarakan dengan saya'.

Saya adalah tipikel orang yang suka banget cerita tentang banyak hal. Bercerita tentang pemikiran, pengalaman, harapan, dan perasaan. Karena itu saya juga senang untuk didengarkan (even kadang apa yang saya bicarakan not really an important thing). Dan ketika lawan bicara memberikan tanggapan atas cerita yang saya sampaikan saya selalu senang. Saya senang karena saya tahu dia put their attention to every single words that I'm saying. 

Ketika berkomunikasi, kita harus mendengarkan dengan seksama apa yang lawan bicara katakan. Bukan hanya sekedar mendengarkan, tetapi juga memahami. This is what we called, listening and not hearing. Seseorang dapat dikatakan memahami lawan bicara ketika ia mampu memberikan respon, baik secara verbal maupun nonverbal. Respon positif dapat berupa kalimat persetujuan, nasihat, anggukan, senyuman dll. Tidak selalu respon yang positif, karena memang ada kalanya seseorang memberikan respon negatif. Contoh respon negatif adalah saat murid SMA diberi tugas matematika satu bab oleh gurunya dan harus dikumpulkan besok pagi.

Bagaimana cara agar kita dapat mendengarkan sekaligus memahami lawan bicara? Here's some advice that I can give to you,
  • Pertama tentu pusatkan perhatian, sebisa mungkin tidak tepengaruh oleh segala bentuk noise yang akan muncul. Seperti keramaian lingkungan dan notifikasi di gadget. 
  • Kedua, saat kita memperhatikan lawan bicara...lakukan eye contact. Bener deh ini...eye contact itu penting. It'll make people being respected by you. Tapi tetep juga harus tau konteks waktu dan ruangnya. Saat berbicara dengan gebetan, dengan leluasa kita bisa memberikan tatapan genit, tetapi tidak pada guru atau dosen. Jangan sampai kita memberikan tatapan nantang saat lawan bicara kita adalah seseorang yang lebih tua. Atau tatapan yang dapat menimbulkan penafsiran negatif tentang kita. Berikan tatapan yang dapat membuat lawan bicara kita merasa dihargai. Gimana ya caranya? Hm, tanamkan dulu dari dalam hati kita kalau kita menghargai mereka. Maka tatapan 'menghargai' itu akan berjalan dengan sendirinya :) 
  • Ketiga...letakkan gadget, sebisa mungkin jauhkan dari pandangan kita. Sebagian orang berkata bahwa ketika ia memegang gadget ia tetap dapat memperhatikan lawan bicaranya. Ya...bisa dikatakan benar ketika orang tersebut mampu fokus terhadap dua hal secara bersamaan. Tetapi meskipun gitu...beda lo rasanya didengarkan oleh seseorang yang sedang memegang gadget dengan yang tidak. Entah kenapa, karena saya pribadi suka bete kalau ketika saya berbicara dan lawan bicara justru asyik dengan gadget.
  • Keempat, jangan menyela. Berikan waktu untuk mereka berbicara. Saat mereka sedang berbicara kita dapat memberikan respon nonverbal yang dapat menujukkan ke mereka bahwa kita menyimak apa yang tengah ia sampaikan. Oya...ketika seseorang bercerita, tidak semua orang ingin mendapatkan masukan. Terkadang seseorang bercerita hanya karena mereka ingin didengar. Jadi, biasanya ketika ingin memberikan tanggapan berupa masukan saya tanya dulu ke mereka...boleh dikasih masukan atau nggak. Kalau kita langsung nyerocos memberikan masukan, belum tentu juga mereka suka karena mereka akan merasa digurui.
Hm...sepertinya terlalu ideal sekali ya. Saya sendiri pun kadang belum benar-benar menerapkannya. Tetapi saya akan selalu berusaha untuk menjadi pendengar yang baik seperti pada keempat poin tersebut. 24 jam (((kecuali kalau saya sudah tidur lain ceritanya wkwk))) akan selalu terbuka untuk siapapun bagi yang mau bercerita, insyaAllah saya akan dengan setia mendengarkan :)
Kalo ada apa-apa cerita ya. Sama siapa aja terserah. Nggak mesti harus cerita sama aku. Pokoknya cerita sama orang yang kamu percaya
Kalimat itu adalah satu hal yang selalu saya ingatkan kepada semua teman. Menurut saya seseorang tidak mungkin menanggung beban perasaannya sendiri. Kalaupun bisa pasti akan ada batasnya. Kita tidak pernah tahu kapan kita mencapai batas itu. Dan kita juga tidak tahu hal-hal apa yang akan terjadi jika telah berada dalam ambang batas. Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi bila kita terlalu lama memendam sesuatu sendirian. Perlu seseorang lain yang juga memahami perasaan tersebut. 

Ibarat sebuah gelas yang diisi air terus menerus tanpa meminumnya, lama kelamaan akan tumpah juga air di gelas itu. Sama seperti manusia, ketika ia ditimpa masalah terus menerus tanpa pernah menceritakannya dan hanya memendamnya sendiri suatu saat pasti akan meledak juga. 


Karena dari itu saya nggak pernah capek untuk mengingatkan mereka untuk bercerita apapun yang mengganggu pikiran mereka. Meskipun dengan bercerita tidak selalu dapat menyelesaikan masalah, at least orang lain dapat memahami perasaan dan posisi kita. Dan saya yakin itu dapat membuat rasa beban berkurang dikit demi sedikit. 

Saya harap...setiap orang tidak memendam masalahnya sendiri. Bercerita lah kepada seseorang yang dapat dipercaya. Seseorang yang mampu menjaga rahasia diantara keduanya. Dan...jadilah pendengar yang baik. Tanpa disadari sejujurnya semesta pun telah menunjukkan bahwa kita harus menjadi pendengar yang baik. Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut bukanlah tanpa maksud. Hal ini menunjukkan bahwa kita harus lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Selamat malam peeps dan selamat beristirahat! ^^ 

Kamis, 20 November 2014

Going the Extra Miles

Sudah lama aku tak bersua dengan hal tulis menulis, terlebih untuk menuangkannya kedalam media sosial. Yang mana itu sama artinya aku menceritakan tentang aku, kehidupanku, pemikiranku untuk dapat dibagikan, diketahui oleh khalayak luas. Kupaksakan mataku, jemariku untuk dapat menatap layar monitor dan berjalan di keyboard demi "mencurahkan" apa yang ada dalam diriku kini. Bukan aku tak terbiasa lagi berhadapan dengan layar monitor dalam waktu yang lama. Namun, masih banyak hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu.

Sebenarnya aku risau dalam beberapa minggu terakhir, begitu banyak pundi-pundi hal yang sedikit membebani aku--baik fisik maupun mental. Aku tak ingin begitu terlalu terbawa arus, tapi apadaya semua ini telah berhasil membuatku meracau dan gundah gulana. Emosiku mulai sedikit tidak terkontrol bila menghadapi sesuatu yang tak aku harapkan. Membuat orang disekelilingku sedikit panik dan kebingungan melihat aku yang terlalu cemas. Maaf, aku benar-benar seorang overthinker yang tidak dapat melepaskan masalah yang datang pada dirinya begitu saja. Walaupun aku tahu bahwa memikirkan hal yang telah terjadi tidak ada gunanya sama sekali, yang perlu kita lakukan adalah bagaimana mencari jalan keluar akibat yang timbul dari permasalahan tersebut. Tak perlu orang tahu apa yang sekiranya membuatku menjadi gundah, biar aku sajalah yang tahu. 

Dan kini aku sedang dalam tahap memulihkan diriku sendiri agar dapat menjalani kehidupanku selanjutnya. Ya karena satu-satunya orang yang mampu membawa kita berubah adalah diri kita sendiri. Banyak cara yang kutempuh, salah satunya adalah dengan menuliskan ini dan kubagi dengan mereka-mereka yang (mungkin) membaca blogku. Selain dengan memberi semangat pada diriku sendiri seperti apa yang biasa aku lakukan (baca disini), minimal akan ada kata amin amin amin yang terucap diakhir bagian membaca post ini. Tapi yang terutama adalah mengingatkan pada diriku sendiri untuk selalu sabar sabar dan sabar. Tak boleh ada kata lelah dalam bersabar, karena aku percaya bahwa manisnya penantian akan kuicip dimasa datang. Baru pagi tadi aku membaca lagi novel karya Ahmad Fuadi yaitu Ranah 3 Warna yang merupakan trilogi dari Negeri 5 Menara. Sungguh novel tersebut memiliki magnet yang kuat terhadapku, selalu...trilogi tersebut tidak pernah gagal membuatku kembali memompa semangatku. Mantra man shabara zhafira seolah mencambuk aku yang sekarang. Ya, aku kurang bersabar. Aku hanya mengeluh tidak terima akan apa hal yang aku inginkan tidak terjadi dan mengeluh akan hal yang seharusnya tak boleh terjadi. Aku harus berubah!

Sempat tersandung karena UTS bukan berarti menyurutkan semangatku dalam menimba ilmu, ini justru peringatan keras bagiku untuk going the extra miles--melebihkan usaha diatas usaha orang lain. Ya, UAS akan datang di dua minggu kedepan, dan UNAS akan berlangsung dalam hitungan bulan. Sungguh waktu begitu sangat cepat berlalu. Dan itu artinya aku harus--sangat sangat harus--belajar dengan keras. Aku harus merubah pola tidurku yang kini mulai kembali seperti anak bayi yang telah terlelap dengan mudahnya di pukul 9. Memang, tak baik jika hanya tidur dalam waktu 3-4 jam saja. Tapi memang ini yang harus dilakukan, melebih usaha diatas usaha orang lain. Belajar setiap saat setiap waktu dengan dan memperbanyak mengerjakan soal-soal latihan. Mengurangi frekuensi bermain gadget dengan menyembunyikan icon media sosial (walaupun pada akhirnya tetap kubuka untuk melepas penat) dan juga...mengurangi frekuensi untuk mengikuti perkembangan Liga Spanyol yang semakin menarik dengan prestasi Real Madrid yang gemilang, gol-gol Ronaldo disetiap laga dan bahkan penampilan Kroos yang memukau, pun dengan Bayern Muenchen serta Neuer yang begitu menggoda serta jalannya kualifikasi Piala Eropa. Semua itu harus kutinggalkan sejenak demi...demi pencapaian nilai UAS, Usek dan UNAS yang maksimal, sehingga mudah bagiku untuk dapat diterima jalur undangan di Universitas Airlangga. 

Tak ada paksaan, tak ada lelah, tak ada kata mengeluh, semua harus dijalani dengan rasa ikhlas. Niat untuk menimba ilmu dan membanggakan orang tua. Selain itu kerja keras tersebut tak lupa diimbangi dengan perbanyak sholat dan dzikir. Belakangan ini aku telah berusaha untuk dapat menunaikan sholat malam ketika tiba-tiba terbangun, lalu kulanjutkan dengan belajar hingga subuh. Semoga Allah meidhoi dan mampu melihat upaya kerja kerasku dalam meraih segala impianku. Amin.


Sabtu, 07 Juni 2014

Penyemangat

Aku bukan manusia bodoh yang tidak tahu waktu. Bukan seseorang yang mudah melupakan apa yang seharunya aku lakukan kini. Aku tau, memang bukan hal yang baik untuk tetap terjaga di saat hari baru berganti beberapa menit yang lalu. Apakah ini sudah tengah malam?

Selama kurang lebih 3 jam, aku tak berhenti melepaskan mataku dari layar yang sesungguhnya tidak baik untuk kesehatan mata. Terlebih, aku hanya menggunakan mataku untuk menonton drama. Yang akhirnya membuatku benar-benar 'banjir' karena terlarut dalam suasana. Tapi aku juga bingung, sebenarnya apa yang membuatku 'banjir'. Aku menyangkal bahwa ini semua akibat drama. Iya, karena sesungguhnya pikiranku terpecah--menjadi dua. Berpusat pada drama dan sejumlah pikiran yang terus membayangi seperti seolah tak mau pergi dari kepalaku.

Mungkin karena itu semua, aku menulis ini. Hanya ini yang dapat sejenak menenangkan pikiranku. 

Ada secarik kertas berwarna putih di meja belajarku. Sedikit menggelitik sehingga aku tertarik untuk membukanya. Didalamnya...terdapat banyak kalimat penyemangat. Terdapat beberapa nama orang-orang disekitarku yang sangat aku sayangi. Maaf, aku lebih suka menggunakan kata sayang daripada cinta. Isi kertas itu sangat sederhana. Tapi tidak perlu juga aku beritahu disini. Cukup biar aku yang tahu, cukup hanya aku saja yang jaga, cukup...tolong biarkan kata-kata itu merasuk dalam tubuhku. Membaur dengan seluruh jiwaku dan membakar api semangatku.

Semua pasti mulai tercengang siapakah gerangan pengirim kertas penyemangat itu. Mungkin kalian akan menjawab, kekasih. Haha. Namun sayangnya bukan. Pengirim dari surat itu yang tak lain dan tak bukan adalah dari diriku sendiri. Yang selalu berusaha bersemangat melakukan belajarku dalam meraih impianku. Terserah mau menggapku seperti apa. Mungkin itu adalah suatu hal yang aneh. Menulis surat untuk dirinya sendiri. Lebih tepatnya penyemangat.

Aku sedikit terbiasa untuk menuliskan impianku dan juga orang-orang disekitarku yang menyayangiku. Itu semua aku lakukan karena aku merasa itu perlu bagiku. Karena dengan itulah aku menjadi bersemangat untuk menjalani semua ini. Bersemangat dalam terus belajar untuk benar-benar dapat meraih mimpi yang selalu aku tanamkan setiap hari dalam diriku. Dan penyemangat untuk menjadikan diriku untuk selalu dan selalu menjadi pribadi yang lebih lebih dan lebih baik di setiap harinya. Semua, ini aku lakukan untuk orang-orang disekitarku. Orang-orang yang aku anggap memiliki andil dalam hidupku. Orang-orang yang menyayangiku, dan juga...orang yang kusayang. 

Entahlah, dengan menuliskan kata-kata penyemangat dan orang-orang yang kusayang...hal ittu menurutku cukup efektif untuk membuatku menjadi terpacu dalam melakukan sesuatu. Yang mana, sesuatu tersebut nantinya dapat membanggakan mereka akan hadinya aku. 

Sepertinya bagi kalian para teman-teman sebaya ataupun dari segala umur dapat melakukan ini juga. Terutama bagi yang selalu merasa dirinya kurang mendapatkan semangat. Apalagi yang ditambah dengan embel-embel tidak punya tambatan hati. Sekarang, cobalah untuk menuliskan impian, orang-orang yang kausayang dan kata penyemangat di sebuah kertas. Letakkan kertas tersebut dimana kamu dapat membacanya setiap kamu melakukan aktivitas. Atau mungkin bisa juga dibawa dalam tempat pensil maupun dompet. Sederhana, tapi mengena.

Semoga...dengan membaca ini, dan dengan melakukan tindakan kecil yang mungkin dianggap bodoh oleh beberapa orang memang benar-benar dapat memberi dampak yang positif bagi semuanya. Penyemangat itu bisa datang dari mana saja. Orangtua, keluarga, teman, guru, kekasih. Tapi kembali lagi pada pribadi masing-masing. Apalah arti sebuah semangat tanpa ada kemauan dari diri sendiri untuk meraih setiap keping-kepingan mimpi yang telah diukir dengan indah disetiap malam sebelum tidur.

Selasa, 01 April 2014

Sebuah Angan dan Cita-Cita


Setiap orang pasti pernah berangan-angan tentang masa depan. Tentang bagaimana kehidupannya kelak nanti, dan siapa orang-orang terkasih yang akan menemani untuk melalui masa depan itu. Berangan-angan sama layaknya seperti bermimpi. Namun, entah mengapa saya lebih menyukai kata berangan-angan daripada bermimpi. Buat saya—bermimpi itu seperti memikirkan sesuatu yang—hampir mustahil untuk diwujudkan. Dan angan-angan adalah—menggambar masa depan dengan imajinasi kita. Simpelnya, semua orang pasti memiliki cita-cita.

Terkadang disaat kita berangan-angan imajinasi kita dapat menjadi sangat liar. Hinggap ke setiap tujuan yang akan kita raih, ke setiap orang yang kita inginkan untuk bersama kita di masa depan. Dan masih banyak hal-hal detail yang kita pikirkan. Hinga berangan-angan membuat seseorang mengalihkan hal yang sebelumnya ia kerjakan. Membuat ia duduk terdiam, termenung dan akhirnya melamun. Terlihat fana memang. Bagaimana kita memikirkan masa depan disaat semua orang sudah mengetahui bahwa masa depan telah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Berangan-angan itu fana?

Jawaban saya adalah tidak! Buat saya berangan-angan bukanlah suatu hal yang fana. Saya dapat berkata seperti itu karena saya merasa, angan-angan itulah yang akan membawa kita untuk meraih cita-cita tersebut. Meraih setiap potongan-potongan cita-cita dari hal-hal yang kecil hingga yang besar. Untuk mengubah cita-cita yang awalnya hanya sebuah keinginan menjadi kenyataan.

Justru dengan semakin sering kita berangan-angan, semakin kuat pula keinginan kita untuk dapat mewujudkannya. Entah itu karena ingin pembuktian diri ataupun menunjukkan kepada orang-orang yang terkasih disekitar kita seperti; orangtua, keluarga, guru yang mungkin dulunya selalu meragukan kemampuan kita. Angan-angan itulah yang selalu memacu kita untuk bersemangat, tidak mudah putus asa dan terus mengejar impian dan cita-cita kita. Dan hingga nanti sampai pada saatnya—saat yang telah ditentukan oleh Tuhan—impian itu bukanlah lagi hanya sebuah impian. Tapi impian itu telah berhasil kita raih dan genggam lalu kita kepalkan tangan kita udara seraya mengucapkan syukur kepada Tuhan atas pencapaian kita.
Impianku kini bukan lagi sekedar impian. Impianku telah menjadi nyata!
Jadi, jangan pernah berhenti dan takut untuk berangan-angan. Setiap orang berhak untuk berangan-angan. Karena berangan-angan itu gratis! Dan, jangan pernah lelah untuk dapat mewujudkannya.

KEEP ON DREAMING GUYS! Don't be afraid to be a dreamer :)

nowplaying: I Have A Dream by Westlife ♬ ♥
(nb: this is my first foreign song that I sing when I'm 3yo)
  penyemangat setiap saat

semua pasti ada saatnya, hanya butuh proses dan kesabaran dalam penatiannya. amin

Jumat, 20 September 2013

Ceritaku di Stasiun (Late Story)

Bukan...ini bukan sebuah cerpen. Apalagi cerpen tentang cinta yang menceritakan 2 anak manusia yang menjalin hubungan dan harus terpisahkan dengan jarak yang beribu-ribu kilometer jauhnya.

Ini hanya sebuah cerita, tentang bagaimana saya dapat melihat lebih 'jeli' bahwa kerasnya hidup memang mau tidak mau harus dijalani. Dan seberat apapun itu kita harus ikhlas dan tawakal kepada Allah.

Sebelumnya saya menghabiskan waktu di Magelang--kota yang penuh cerita (itu kata mereka--para pengabdi bangsa yang ditempa disana) selama 2 hari 1 malam. Saya dan kedua orang tua saya mengikuti acara reuni akbar 25th yang rutin digelar di kota tersebut. Pada malam kedua, kami memutuskan untuk langsung kembali ke Jakarta karena satu dan lain hal.

Malam itu, pengemudi kami mengantarkan ke stasiun Tugu, Jogjakarta. Barang bawaan kami cukup banyak. Belum ditambah lagi dengan bantal kesayangan saya--moo yang sedikit menjadikan keadaan agak riweuh. Maka kami memanggil satu kuli panggul untuk membantu membawa barang bawaan kami. Ya, disinilah saya mulai menyadari bahwa--ada sesuatu yang berdesir di hati saya.

Saya tidak tahu, apa mungkin...selama ini saya terlalu banyak melihat kehidupan kota Surabaya dengan sisi kacamata duniawi? Padahal...keringat yang berpeluh-peluh, jerit dan tangisan...semua itu juga saya saksikan dan rasakan di kota pahlawan. Tetapi...mungkin semua itu tertutup dengan kehidupan yang penuh gelak tawa serta langkah kaki yang membawa tas-tas belanjaan, caci-maki atas pekerjaan yang tidak beres, gerutu dan keluh kesah pelajar akan tugas yang menumpuk--walaupun sebenarnya, masih ada sebagian kecil dari penduduk kota yang mampu mengucap syukur kepada Allah sekalipun jalan yang ditempuhnya begitu berat dan hidup dalam segala keterbatasan.

Kembali ke awal. Tidak berhenti disitu. Setelah masuk peron, pemandangan yang kembali miris datang silih berganti. Dimulai dengan seorang ibu yang menjajakan oleh-oleh khas jogja, bapak yang menjual kacamata hingga nenek yang masih kuat berjualan nasi bungkus di kala usia senjanya. Padahal saat itu, kami akan menaiki kereta terakhir yaitu pukul 11 malam. Bukan hanya itu, saya juga tertegun melihat berapa pasang mata yang masih membuka matanya di waktu istirahat seperti ini untuk menafkahi keluarga mereka. Ya, mereka berjuang semata-mata hanya agar dapat menghidupi, memberi makan, menyekolahkan anak-anak mereka. Baginya, kesenangan yang tak ternilai adalah ketika mendapat penghasilan yang lebih di hari itu.

Melalui kereta, mereka bercerita. Lewat kereta, mata, hati serta pikiran ini mulai kembali terbuka. Esok paginya, dari jendela kereta saya mulai kembali meraba-raba tentang mereka. Ya, sesaat sebelum sampai Jakarta pemandangan yang membuat saya berdesir tidak datang hanya cukup sekali saja. Ia datang terus-menerus di sepanjang perjalan. Pemukiman kumuh yang sungguh sebenarnya tidaklah kondusif bagi kesehatan. Belum ditambah dengan adanya tumpukan sampah yang menggunung dirumah mereka. Miris rasanya. Kemudian juga ada seorang anak kecil yang bertubuh mungil sedang membantu ibunya. Keadaan seperti ini, mungkin sudah jarang ditemukan di kota-kota besar.

Ketika melewati stasiun-stasiun kecil seperti Manggarai dsb, saya juga melihat bagaiman riuhnya stasiun yang pagi itu mulai dijubeli oleh manusia-manusia. Raut muka mereka...memang tidak semua menandakan rasa iba. Tetapi...disetiap garis wajahnya, disetiap langkah kakinya, mereka memliki keyakinan akan secercah harapan yang mungkin suatu saat akan datang dari Sang Ilahi dan merubah hidupnya--untuk keluarganya.

Saya pikir, setiap tempat selalu memiliki cerita. Tetapi bagi saya, stasiun dan kereta memiliki makna yang berbeda. Karena mereka mampu memberikan suatu cerita bagi kita--yang berada didalamnya, untuk kembali merenungi kehidupan ini. Mereka memang tidak menceritakannya secara lugas, namun dengan tersiratnya pemandangan-pemandangan--yang sebenarnya para masinis tidak menyengajakannya--justru mampu menggoyahkan hati kita dan mungkin...akan menitikan air mata iba.

Kita terkadang masih memiliki rasa iri ataupun dengki dengan orang-orang disekitar kita. Ya, persaingan. Di era industri seperti ini, persaingan ada untuk membuktikan siapa yang lebih baik. Keluh kesah adalah kalimat yang sudah jamak diucapkan maupun didengarkan. Kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan hanya mengejar materi. Padahal diluar sana, banyak saudara-saudara kita yang masih hidup terbelenggu dalam 'kejamnya' dunia. Sedikit pun kita terkadang lupa dengan mereka. Berpapasan pun, yang ada mungkin hanyalah sebuah tatapan dari mata yang dipicingkan.

Dan akhirnya saya menyadari, mungkin ini memang jalan Allah untuk mengingatkan setiap umatNya agar selalu bersyukur atas limpahan rahmat dan nikmatNya. Sebagai manusia yang hidup yang penuh dengan persaingan baiknya kita selalu...
Melihat keatas untuk memotivasi, dan melihat kebawah untuk bersyukur
Dan juga...ingat DUIT! Doa, usaha, ikhlas dan tawakal. Karena segala sesuatu yang dilandasi dengan ikhlas, seberat dan sekeras apapun akan terasa ringan dan menyenangkan. Tanpa kerja keras, doa saja pun tak cukup. Tanpa doa, kerja keras pun juga tak cukup. Seperti firman Allah SWT:
"...إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ..."
Artinya: "...Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..."  QS. Ar-Ra'd (11)

See you in next post :-) 

Kamis, 27 Juni 2013

Yang Dicintai adalah Yang Mencintai

re-post



Ya Allah...
Saat aku menyukai seorang teman
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir

Ya Allah...
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati-Mu
Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi

Ya Allah...
Jika aku mesti mencintai seseorang
Temukanlah aku dengan orang yang mencintai-Mu
Agar bertambah kuat cintaku pada-Mu

Ya Allah...
Ketika aku sedang jatuh cinta
Jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu

Ya Allah...
Ketika aku berucap ‘Aku cinta padamu’
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada-Mu
Agar aku tak jatuh cinta dalam cinta yang bukan karena-Mu

Sebagaimana orang bijak berucap...
Mencintai seseorang bukanlah apa-apa
Dicintai seseorang adalah sesuatu
Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah berarti
 Tapi dicintai oleh Sang Pencinta adalah segalanya

Rabu, 19 Juni 2013

Sebuah Renungan: Siklus Hidup Manusia

re-post

Tuhan menciptakan Keledai dan berkata : "Kamu akan bekerja tanpa lelah sejak matahari terbit, memikul beban berat dipundakmu, kamu tidak mempunyai akal dan kamu akan hidup selama 50 tahun". Keledai menjawab : "Saya bersedia menjadi keledai, tetapi hidup selama 50 tahun terlalu lama. berikan hanya 20 tahun" dan Tuhan memberinya hidup 20 tahun.

Lalu Tuhan menciptakan Anjing dan berkata : "Kamu akan menjaga rumah, menjadi sahabat terbaik manusia dan memakan apa saja yang mereka berikan dan kamu akan hidup selama 25 tahun". Anjing menjawab : "Tuhan, hidup 25 tahun terlalu lama, berikan hanya 10 tahun”. dan Tuhan memberinya hidup selama 10 tahun.

Tuhan kemudian menciptakan Monyet dan berkata : "Kamu akan hinggap dari pohon ke pohon. Kamu akan melakukan hal-hal yang bodoh, kamu akan menjadi penghibur dan kamu akan hidup selama 20 tahun". Monyet menjawab : "Tuhan, 20 tahun terlalu lama. berikan hanya 10 tahun". dan Tuhan-pun setuju.

Akhirnya, Tuhan menciptakan MANUSIA dan berkata : "Kamu akan menjadi manusia, satu-satunya mahkluk yang paling rasional di bumi, kamu akan mengunakan kepandaianmu untuk mengatur mahluk lainnya, kamu akan mendominasi dunia dan akan hidup selama 20 tahun". Manusia menjawab : “Tuhan, Saya akan menjadi manusia, tetapi 20 tahun terlalu singkat. Bagaimana kalau kau berikan aku 30 tahun yang ditolak keledai, 15 tahun yang ditolak anjing dan 10 tahun yang monyet kembalikan ?". Dan itulah yang Tuhan berikan.

Sejak saat itu, Manusia hidup selama 20 tahun sebagai Manusia lalu memasuki masa dewasa dan menghabiskan 30 tahun seperti Keledai, bekerja dan memikul beban berat dipundak, dan ketika anak-anak meninggalkan rumah, menjalani 15 tahun kemudian seperti anjing, menjaga rumah dan memakan apa saja yang diberikan dan kemudian memasuki masa pensiun, manusia menjalani 10 tahun sebagai monyet. hinggap dari rumah anak yang satu ke anak yang lain,rela melakukan hal-hal bodoh untuk menghibur para cucu...

Minggu, 23 Desember 2012

Menyalahkan

          Waktu dan keadaan. Dua hal inilah yang terkadang ingin disalahkan oleh kebanyakan manusia, termasuk saya. Seiring waktu yang tidak dapat kita hentikan, maka keadaan pula juga akan selalu berubah. Membuat perubahan pada setiap manusia.
          Pasti banyak diantara kita yang sering berkata "Ah, andai waktu bisa diulang kembali ya," "coba dulu nggak kaya gitu...mungkin sekarang nggak akan kaya gini," "punya mesin waktu enak mungkin ya...," "coba kita bisa hidup dalam satu masa yang menurut kita paling menyenangkan," Dan masih banyak sekali keluhan-keluhan lain dari manusia akibat waktu yang selalu berjalan.
          Mereka--para manusia mengeluh karena mereka mengalami perubahan-perubahan yang entah itu semakin baik atau semakin buruk. Mulai dari masalah karir, cinta, pertemanan. Semuanya. Waktu, telah membuat orang berubah. Berubah karena keadaan. Tetapi sangatlah tidak etis rasanya bahwa kita ingin menyalahkannya--waktu dan begitu pula keadaan. Waktu adalah anugrah yang telah diberikan oleh Yang Kuasa. Harusnya kita malah berterimakasih kepadaNya karena masih diberikan nafas disetiap detik-detik waktu kehidupan. Dan seharusnya, kita sebagai manusia yang selalu hidup dalam segala keadaan karena adanya perubahan waktu harus dapat mensikapi dengan bijak apa yang terjadi pada diri kita dan disekitar kita. Bukan malah menyalahkan keadaan luar.


Sabtu, 13 Oktober 2012

sekolah

"Sekolah diniati buat ibadah, buat cari ilmu biar bisa berguna dihari depan."

Minggu, 09 September 2012

Kehidupan SMA vs Sinetron

Sudah hampir 2 bulan nglakoni sebagai siswi "putih abu-abu". Dan walaupun masih 2 bulan tapi sudah bisa bilang "oalah, ternyata gini to rasanya jadi anak SMA". Ternyata beda jauh sama kaya yang diceritain di sinetron-sinetron.
Dulu waktu masih SMP, rasanya ngebet banget pengen jadi anak SMA. Tapi sekarang kerjaannya kangen sama masa-masa SMP dulu. Kangen sama sekolahnya, gurunya, temen-temennya, pelajarannya. Wuaaah pokoke kangen sekolah SMP sak isi-isine.

SMA yang di sinetron-sinetron itu kan biasanya cenderung muesti ceritanya anak sma cinta-cinta an lalala lilili yowes terus mbulet-mbulet #halah -_- tapi emag bener kan faktanya kaya gimana dunia sinetron di Indonesia ini. Orang yang nggak ngerti (re: orang di desa, anak-anak kecil) pasti mbayangin gimana surga gitu rasanya jadi anak SMA. Yang boleh bawa mobil kesana kemari, pake rok mini diatas lutut, rambut dicat, pake aksesoris yang berlebihannya itu puol banget. Kerjaannya cuma nongkrong begaol sama temen se-geng ngrumpa-ngrumpi nggosip sana-sini. Terus matanya sigap banget liat cowok/cewek kece. Padahal faktanya? NGGAK SAMA SEKALI. Yang namanya SMA kan udah harus planning buat kehidupan di masa depan nanti. Nggak cuma sekedar main-main kaya yang disinetron terus bisa bebas nglanggar aturan sekolah, debat sama guru untuk suatu urusan yang nggak penting dan bla bla bla.

Dan yang aku rasain sekarang itu justru suatu kewajiban yang harus aku lakukan dengan semaksimal mungkin untuk nggapai cita-citaku, untuk masa depanku sendiri. Dan yang pasti untuk mbanggain kedua orang tua. Masa depanku nanti ditentuin sama diriku sendiri. Dan itu harus dimulai dari sekarang. Buktinya sekarang SMA aku lebih banyak diem nggak mau haha hihi lagi kaya dulu SMP, harus lebih giat. Dulu SMP tiap malem weekend mesti pacaran kalo nggak sama twitter ya sama dvd-dvd. Nah sekarang? Kalo sekarang pacaran ya mesti sama tugas-tugas, atau kadang-kadang ya having time bareng keluarga. Cerita sembarang kalire ke ortu curhat-curhat masalah-masalah disekolah selama satu minggu ini atau kadang juga curhat masalah pribadi....hihihhi ;3 Pokoknya SMA itu masanya ngatur kehidupan di masa datang deh. Pasti buat rek, mbak & mas yang udah SMA ngerti kan rasanya SMA itu gimana.

Itukan yang tau tentang kehidupan anak SMA yang sebenernya. Lah yang nggak tau? Yang orang-orang desa yang nggak ngenyam pendidikan, sama adik-adik kita yang suka liat sinetron? Pasti mereka ngrasa kalo SMA itu surga dan fun banget deh pokoknya. Padahal aslinya? nggak blas.... eh ya nggak ding.... Maksudnya, nggak sepenuhnya bener kaya yang diceritain di sinetron-sinetron itu. Terus-terus masalahnya sekarang sinetron nggak cuma nyeritain tentang dunianya SMA, tapi SMP-SD juga...wuaduuuh gaswat mas mbak brooo... Ceritanya cinta-cinta an aduh sumpah nasjong banget rasanya ewh -_- Sampek adik-adik kita udah ngerti pacaran itu apa, cara ngrayu cewek gimana... Wuaaa, kakak-kakaknya kalah niiih.... Makanya yang punya adik jaga adiknya baik-baik, kalo nonton TV diperhatiin, daripada ntar dia ketularan virus-virus yang nggak baik dari acara yang mesti diliat sama dia. Ya kan? Bener kan? Haha.

Yaudahlah, cuma mau sedikit nge-share sama yang lagi ada di pikiran dan hati hehe...
btw, minggu ini suwumpek pol banyak pr sama uh juga menanti... hmm, tetap semangat dan bismillah wish me luck ya :-) semoga bisa mendapatkan hasil yang maksimal walaupun masih uh.

See yaaa xxx :-) :-) :-)

Sabtu, 03 September 2011

fruit and part of our body ~

EAT LOTS OF SWEET POTATOES
  this is really interesting... old but a good reminder...
 
 
It's been said that God first separated the salt water from the fresh, made dry land, planted a garden, made animals and fish... All before making a human. He made and provided what we'd need before we were born. These are best & more powerful when eaten raw. We're such slow learners...
God left us a great clue as to what foods help what part of our body!


God's Pharmacy! Amazing!

   
A sliced Carrot looks like the human eye. The pupil, iris and radiating lines look just like the human eye... And YES, science now shows carrots greatly enhance blood flow to and function of the eyes.
 
A Tomato has four chambers and is red. The heart has four chambers and is red. All of the research showstomatoes are loaded with lycopine and are indeed pure heart and blood food.
 
Grapes hang in a cluster that has the shape of the heart. Each grape looks like a blood cell and all of the research today shows grapes are also profound heart and blood vitalizing food. 
 
A Walnut looks like a little brain, a left and right hemisphere, upper cerebrums and lower cerebellums. Even the wrinkles or folds on the nut are just like the neo-cortex. We now know walnuts help develop more than three (3) dozen neuron-transmitters for brain function. 

 
Kidney Beans actually heal and help maintain kidney function and yes, they look exactly like the human kidneys. 

 
Celery, Bok Choy, Rhubarb and many more look just like bones. These foods specifically target bone strength. Bones are 23% sodium and these foods are 23% sodium. If you don't have enough sodium in your diet, the body pulls it from the bones, thus making them weak. These foods replenish the skeletal needs of the body. 

 
avocados, Eggplant and Pears target the health and function of the womb and cervix of the female - they look just like these organs. Today's research shows that when a woman eats one avocado a week, it balances hormones, sheds unwanted birth weight, and prevents cervical cancers. And how profound is this? It takes exactly nine (9) months to grow an avocado from blossom to ripened fruit. There are over 14,000 photolytic chemical constituents of nutrition in each one of these foods. Modern science has only studied and named about 141 of them. 

 
Figs are full of seeds and hang in twos when they grow. Figs increase the mobility of male sperm and increase the numbers of Sperm as well to overcome male sterility. 

 
Sweet Potatoeslook like the pancreas and actually balance the glycemic index of diabetics.

  
Oranges,Grapefruits, and other Citrus fruits look just like the mammary glands of the female and actually assist the health of the breasts and the movement of lymph in and out of the breasts.
 
Onions look like the body's cells. Today's research shows onions help clear waste materials from all of the body cells. They even produce tears which wash the epithelial layers of the eyes. A working companion, Garlic, also helps eliminate waste materials and dangerous free radicals from the body.

Please don't break this even if you only send it to one person. Look at the date when this was started. Thanks 


NOTICE AT THE END, THE DATE THE CANDLE WAS STARTED.

GONNA GIVE YOU GOOSE BUMPS.

I am not going to be the one who
 Lets it die. I found it believable... 
 
 

This candle was lit on the
15th of September, 1998. 
Someone who loves you has helped 
Keep it alive by sending it to you.
 
Don't let The Candle of Love, Hope And Friendship die! Pass It On To All

Of Your Friends and Everyone You Love!

Senin, 20 Desember 2010

Hidup Pilihan

Assalamu'alaikum

well, kali ini aku akan mbicarain topik sesuai dengan yg aku tulis di judul "hidup pilihan"
kenapa aku bilang hidup itu pilihan? iya karena selama kita masih bernafas dibumi ini, tidak mungkin kita tidak menemukan suatu pilihan berat.

seperti halnya saat kita mengerjakan soal dari bapak/ibu guru. pasti kita kebingungan mencari jawaban yang mana yang harus kita pilih. dan yang paling kamu anggap benarlah yang kamu pilih. begitu juga sebaliknya, sama seperti soal pilihan ABCD...hidup pun juga seperti itu. ketika kita menemukan 2 atau lebih pilihan kita tidak mungkin akan mengelak atau menghindar dari pilihan pilihan tersebut. 
walaupun pilihan tersebut berat, tapi 2 atau lebih dari pilihan tersebut memang harus kita pilih. dan benar jika semua pilihan selalu ada dampak positif dan negatifnya. oleh karena itu kita harus pandai pandai memilih dari pilihan2 tersebut. mungkin kalian bingung dan selalu bertanya tanya ketika dijatuhkan oleh suatu pilihan, dan aku yakin kemungkinan besar kita akan bertanya seperti ini ~> "setiap pilihan kan selalu ada sisi positif dan negatifnya, terus kita milih yang mana coba?" ya memang tapi namanya juga suatu pilihan, ya tetap harus dipilih..tinggal tepat atau tidak pilihan yang kita pilih tersebut.
bagaimana cara memilihnya apabila semuanya memiliki dampak positi dan negatif? ya kita harus memilih pilihan yang lebih banyak menimbulkan efek positif ke diri kita.  dan salah ambil "jalur".jangan malah memilih suatu hal yang lebih banyak dampak negatifnya. itu justru dapat membuat kita menyesal
namun saat kamu telah terlanjur dan jatuh oleh pilihan yang kau salah ambil tersebut, jangan kemudian kamu malah pasrah begitu saja dan seolah tak peduli dengan apa yang telah terjadi terhadap kamu.  tapi seharusnya kamu malah harus memperbaiki suatu hal tersebut untuk menjadi lebih baik di kedepan kamunya nanti.

change your mind to make it better
wassalam :)

Selasa, 14 Desember 2010

Aku

Aku adalah aku.
Takkan pernah ada yang seperti .diriku
Aku istimewa karena keunikanku.
Aku adalah angan angan dan mimpi mimpi.
Akulah cahaya.
Cinta dan harapan.
Pelukan dan kadang air mata.

Akulah kata kata cinta
Aku juga sapuan biru, hijau, merah, kuning, ungu,
jingga, dan warna warna lain yang entah apa.
Aku adalah langit, laut dan tanah.
Aku bisa mempercayai, tapi juga merasa takut.
Aku bersembunyi, tapi tidak untuk menutup-nutupi apa pun.

Aku bebas
Aku adalah anak kecil yang menjelang dewasa.
Aku adalah diriku, dan aku menerimanya dengan senang.


Chicken soup for kid's soul from:
Beth Schaffer 15y.o

Selasa, 02 November 2010

Dunia Nyata dan Mimpi

Di kehidupan nyata...

Kita berjalan melewati waktu.
Melangkah ke hidupan yang lebih baru.
Membuat kita mendapatkan banyak pengalaman.
Pengalaman yang indah maupun pahit.
Semua dapat kita rasakan.

Ini sebuah kehidupan, bukan sebuah mimpi.
Indahnya dunia nyata tidak seindah dunia khayalan atau dunia mimpi,
seperti yang selalu kita bayangkan, dan kita angan angakan.
Dunia mimpi hanya sebuah motivasi bagi kita di kehidupan nyata nanti.

Menjalani hidup memang tak mudah.
Selalu ada saja karang terjal yang menemui kita
namun kita pasti bisa melewatinya.
dengan doa, harapan, dan usaha

--- SEDANGKAN ---

Di kehidupan mimpi

Kita berjalan seperti biasa,
Tak terhitung berapa lama kita berada disana
Karena kita...
Terlarut dalam suasana kebahagiaan yang ada
Kebahagiaan yang tak akan pernah bisa berakhir

Ini dunia mimpi, dunia segalanya
Bagaikan Surga yang berada di bumi
Dunia impian semua umat manusia yang selalu kita impikan 
Tempat dimana kita dapat menemukan.., apa yang kita inginkan
Membuat kita sangat berbahagia

Tapi ingatlah wahai manusia
Kita hidup di dunia nyata.
Bukan di dunia mimpi.
Berkacalah, apa yang kita jalani di dunia nyata
tidak semulus seperti di jalan dunia mimpi

=======================================================================

Namun percayalah, 
sebuah mimpi pasti dapat menjadi sebuah kenyataan
Apabila kita selalu mengiringinya dengan doa dan usaha

If we can dream it, we can do it - Walt Disney