Sudah lama aku tak bersua dengan hal tulis menulis, terlebih untuk menuangkannya kedalam media sosial. Yang mana itu sama artinya aku menceritakan tentang aku, kehidupanku, pemikiranku untuk dapat dibagikan, diketahui oleh khalayak luas. Kupaksakan mataku, jemariku untuk dapat menatap layar monitor dan berjalan di keyboard demi "mencurahkan" apa yang ada dalam diriku kini. Bukan aku tak terbiasa lagi berhadapan dengan layar monitor dalam waktu yang lama. Namun, masih banyak hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu.
Sebenarnya aku risau dalam beberapa minggu terakhir, begitu banyak pundi-pundi hal yang sedikit membebani aku--baik fisik maupun mental. Aku tak ingin begitu terlalu terbawa arus, tapi apadaya semua ini telah berhasil membuatku meracau dan gundah gulana. Emosiku mulai sedikit tidak terkontrol bila menghadapi sesuatu yang tak aku harapkan. Membuat orang disekelilingku sedikit panik dan kebingungan melihat aku yang terlalu cemas. Maaf, aku benar-benar seorang overthinker yang tidak dapat melepaskan masalah yang datang pada dirinya begitu saja. Walaupun aku tahu bahwa memikirkan hal yang telah terjadi tidak ada gunanya sama sekali, yang perlu kita lakukan adalah bagaimana mencari jalan keluar akibat yang timbul dari permasalahan tersebut. Tak perlu orang tahu apa yang sekiranya membuatku menjadi gundah, biar aku sajalah yang tahu.
Dan kini aku sedang dalam tahap memulihkan diriku sendiri agar dapat menjalani kehidupanku selanjutnya. Ya karena satu-satunya orang yang mampu membawa kita berubah adalah diri kita sendiri. Banyak cara yang kutempuh, salah satunya adalah dengan menuliskan ini dan kubagi dengan mereka-mereka yang (mungkin) membaca blogku. Selain dengan memberi semangat pada diriku sendiri seperti apa yang biasa aku lakukan (baca disini), minimal akan ada kata amin amin amin yang terucap diakhir bagian membaca post ini. Tapi yang terutama adalah mengingatkan pada diriku sendiri untuk selalu sabar sabar dan sabar. Tak boleh ada kata lelah dalam bersabar, karena aku percaya bahwa manisnya penantian akan kuicip dimasa datang. Baru pagi tadi aku membaca lagi novel karya Ahmad Fuadi yaitu Ranah 3 Warna yang merupakan trilogi dari Negeri 5 Menara. Sungguh novel tersebut memiliki magnet yang kuat terhadapku, selalu...trilogi tersebut tidak pernah gagal membuatku kembali memompa semangatku. Mantra man shabara zhafira seolah mencambuk aku yang sekarang. Ya, aku kurang bersabar. Aku hanya mengeluh tidak terima akan apa hal yang aku inginkan tidak terjadi dan mengeluh akan hal yang seharusnya tak boleh terjadi. Aku harus berubah!
Sempat tersandung karena UTS bukan berarti menyurutkan semangatku dalam menimba ilmu, ini justru peringatan keras bagiku untuk going the extra miles--melebihkan usaha diatas usaha orang lain. Ya, UAS akan datang di dua minggu kedepan, dan UNAS akan berlangsung dalam hitungan bulan. Sungguh waktu begitu sangat cepat berlalu. Dan itu artinya aku harus--sangat sangat harus--belajar dengan keras. Aku harus merubah pola tidurku yang kini mulai kembali seperti anak bayi yang telah terlelap dengan mudahnya di pukul 9. Memang, tak baik jika hanya tidur dalam waktu 3-4 jam saja. Tapi memang ini yang harus dilakukan, melebih usaha diatas usaha orang lain. Belajar setiap saat setiap waktu dengan dan memperbanyak mengerjakan soal-soal latihan. Mengurangi frekuensi bermain gadget dengan menyembunyikan icon media sosial (walaupun pada akhirnya tetap kubuka untuk melepas penat) dan juga...mengurangi frekuensi untuk mengikuti perkembangan Liga Spanyol yang semakin menarik dengan prestasi Real Madrid yang gemilang, gol-gol Ronaldo disetiap laga dan bahkan penampilan Kroos yang memukau, pun dengan Bayern Muenchen serta Neuer yang begitu menggoda serta jalannya kualifikasi Piala Eropa. Semua itu harus kutinggalkan sejenak demi...demi pencapaian nilai UAS, Usek dan UNAS yang maksimal, sehingga mudah bagiku untuk dapat diterima jalur undangan di Universitas Airlangga.
Tak ada paksaan, tak ada lelah, tak ada kata mengeluh, semua harus dijalani dengan rasa ikhlas. Niat untuk menimba ilmu dan membanggakan orang tua. Selain itu kerja keras tersebut tak lupa diimbangi dengan perbanyak sholat dan dzikir. Belakangan ini aku telah berusaha untuk dapat menunaikan sholat malam ketika tiba-tiba terbangun, lalu kulanjutkan dengan belajar hingga subuh. Semoga Allah meidhoi dan mampu melihat upaya kerja kerasku dalam meraih segala impianku. Amin.
0 komentar:
Posting Komentar