Tampilkan postingan dengan label Question of Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Question of Life. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Januari 2016

Psst, yuk mari mendengar

"Eeeh dengerin aku dong, jangan sibuk sama hp mulu" *goyang2in tangan lawan bicara* *pasang muka cemberut*

Sering nggak sih kita denger kalimat seperti diatas? Biasanya kalimat tersebut terlontar saat kita sedang asyik berbicara ternyata lawan bicara kita tidak memperhatikan kita. Banyak sih faktor yang membuat lawan bicara jadi nggak fokus dengan apa yang sedang kita bicarakan. Misal, karena kondisi sekitar yang ramai, lawan bicara sedang melamun atau...mereka justru fokus pada gadget mereka. Bete kan? Nah ini nih yang sekarang sering terjadi di kehidupan kita.

Sekitar tiga bulan yang lalu, yaitu tepatnya tanggal 20 Oktober 2015 saya mengikuti UTS pertama saya sebagai mahasiswa. Hari itu saya akan ujian Pengantar Ilmu Komunikasi (PIK) secara lisan. Dag dig dug belalang kuncup sih sudah pasti. Seminggu saya belajar mati-matian untuk memahami setiap deretan huruf di kitab mahasiswa ilkom yaitu Komunikasi: Suatu Pengantar milik pak Deddy Mulyana. Saya menghafal seabrek soal beserta jawaban (dari materi di buku) yang mungkin akan saya dapat. Dan ternyata ketika ujian, nomor undian yang saya ambil berisikan sebuah pertanyaan logika. Dialog antara saya dengan penguji jujur masih terasa membekas, kira-kira seperti ini, P: Penguji; S: Saya :

P: 'apa yang dimaksud dengan keterampilan berkomunikasi?'
S: 'terampil berkomunikasi adalah bla3x (jelasin tentang bicara tahu konteks ruang waktu, siapa lawan bicara, dan menyampaikan pesan dengan cara yang tepat)'
P: 'udah itu aja?'
S: *mikir keras* 'ah ya Mba, mendengarkan! Mendengarkan itu juga gak kalah penting bla3x'
P: 'oh gitu...terus menurutmu, apa kamu sudah terampil dalam berkomunikasi?'
S: *tertegun* *nelan ludah* *dalam hati tanya: 'iya ya, udah belum sih aku terampil berkomunikasi? seperti jawabanku tadi...' 
setelah beberapa detik terdiam akhirnya saya menjawab 'belum Mba, karena saya masih banyak berbicara daripada mendengar orang lain'

Ya kurang lebihnya begitulah... Saat keluar dari ruang ujian senang karena saya dapat pertanyaan logika dan bukan hafalan. Tapi...jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi hal yang sampai saat ini masih saya pikirkan. Jawaban saya yang mengatakan bahwa terampil berkomunikasi adalah mengenai berbicara dan mendengar, membuat saya terus mengintropeksi diri. Terlebih saat saya mengatakan bahwa saya masih lebih banyak berbicara daripada mendengar. Lalu munculah pertanyaan dalam hati saya, sudahkah saya berbicara dengan tepat? Sudahkah saya mendengar apa kata orang lain? Karena keresahan itulah saya menulis ini. Dengan harapan kita dapat menjadi pendengar yang lebih baik.

Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak ingin didengar? Secara pribadi saya yakin bahwa setiap manusia ingin setiap kata yang ia ucap didengarkan oleh lawan bicara? Kenapa sih manusia ingin didengar? Karena simpel aja, manusia ingin apa yang ia pikir dan rasakan dapat dipahami oleh orang lain. Ya, sesimpel itu.

Tapi sadly to say...sering terjadi saat kita berbicara lawan bicara tidak memperhatikannya. Hingga kita perlu mengulangi kembali pesan yang telah disampaikan. Seperti yang telah ditulis diatas, salah satu faktor penyebab adalah gadget. Yap...a little thing that help your life much but create a new problem also. 

Gadget is like a coin who have two sides, the good and bad ones. Gadget and internet really a delicious and legit combination in this 20s era. They give anything you want to know. They can even help you, like help to finish your task (don't denied it, because I also did). And... you can find happiness from your gadget. Online music player, games, social media etc. Ain't that interesting uh? But in the other side, I believe that most of you probably will spend your time with gadget (esp if you have large quota to access an internet) http://www.laptopmag.com/images/wp/purch-api/incontent/2013/03/gadgets_sf1.jpg

Have you ever realized if you always on your gadget, it'll bring a bad effect...not only for you, but also people around you. When you don't put your attention while communicating with others, they might mad at you. Don't get mad at them back because that's your fault not to listen them carefully. Well to make it easier, let's change your position as you were them. 

Mengutip quote ala ala tumblr,
Quote tersebut menarik untuk diterapkan pada saat kita berkomunikasi. Karena saya senang untuk didengarkan, maka sejak UTS kemarin saya punya satu mindset baru yaitu, 'saya harus juga menjadi pendengar yang baik bagi lawan bicara saya. Siapapun itu. Dan apapun yang ingin mereka bicarakan dengan saya'.

Saya adalah tipikel orang yang suka banget cerita tentang banyak hal. Bercerita tentang pemikiran, pengalaman, harapan, dan perasaan. Karena itu saya juga senang untuk didengarkan (even kadang apa yang saya bicarakan not really an important thing). Dan ketika lawan bicara memberikan tanggapan atas cerita yang saya sampaikan saya selalu senang. Saya senang karena saya tahu dia put their attention to every single words that I'm saying. 

Ketika berkomunikasi, kita harus mendengarkan dengan seksama apa yang lawan bicara katakan. Bukan hanya sekedar mendengarkan, tetapi juga memahami. This is what we called, listening and not hearing. Seseorang dapat dikatakan memahami lawan bicara ketika ia mampu memberikan respon, baik secara verbal maupun nonverbal. Respon positif dapat berupa kalimat persetujuan, nasihat, anggukan, senyuman dll. Tidak selalu respon yang positif, karena memang ada kalanya seseorang memberikan respon negatif. Contoh respon negatif adalah saat murid SMA diberi tugas matematika satu bab oleh gurunya dan harus dikumpulkan besok pagi.

Bagaimana cara agar kita dapat mendengarkan sekaligus memahami lawan bicara? Here's some advice that I can give to you,
  • Pertama tentu pusatkan perhatian, sebisa mungkin tidak tepengaruh oleh segala bentuk noise yang akan muncul. Seperti keramaian lingkungan dan notifikasi di gadget. 
  • Kedua, saat kita memperhatikan lawan bicara...lakukan eye contact. Bener deh ini...eye contact itu penting. It'll make people being respected by you. Tapi tetep juga harus tau konteks waktu dan ruangnya. Saat berbicara dengan gebetan, dengan leluasa kita bisa memberikan tatapan genit, tetapi tidak pada guru atau dosen. Jangan sampai kita memberikan tatapan nantang saat lawan bicara kita adalah seseorang yang lebih tua. Atau tatapan yang dapat menimbulkan penafsiran negatif tentang kita. Berikan tatapan yang dapat membuat lawan bicara kita merasa dihargai. Gimana ya caranya? Hm, tanamkan dulu dari dalam hati kita kalau kita menghargai mereka. Maka tatapan 'menghargai' itu akan berjalan dengan sendirinya :) 
  • Ketiga...letakkan gadget, sebisa mungkin jauhkan dari pandangan kita. Sebagian orang berkata bahwa ketika ia memegang gadget ia tetap dapat memperhatikan lawan bicaranya. Ya...bisa dikatakan benar ketika orang tersebut mampu fokus terhadap dua hal secara bersamaan. Tetapi meskipun gitu...beda lo rasanya didengarkan oleh seseorang yang sedang memegang gadget dengan yang tidak. Entah kenapa, karena saya pribadi suka bete kalau ketika saya berbicara dan lawan bicara justru asyik dengan gadget.
  • Keempat, jangan menyela. Berikan waktu untuk mereka berbicara. Saat mereka sedang berbicara kita dapat memberikan respon nonverbal yang dapat menujukkan ke mereka bahwa kita menyimak apa yang tengah ia sampaikan. Oya...ketika seseorang bercerita, tidak semua orang ingin mendapatkan masukan. Terkadang seseorang bercerita hanya karena mereka ingin didengar. Jadi, biasanya ketika ingin memberikan tanggapan berupa masukan saya tanya dulu ke mereka...boleh dikasih masukan atau nggak. Kalau kita langsung nyerocos memberikan masukan, belum tentu juga mereka suka karena mereka akan merasa digurui.
Hm...sepertinya terlalu ideal sekali ya. Saya sendiri pun kadang belum benar-benar menerapkannya. Tetapi saya akan selalu berusaha untuk menjadi pendengar yang baik seperti pada keempat poin tersebut. 24 jam (((kecuali kalau saya sudah tidur lain ceritanya wkwk))) akan selalu terbuka untuk siapapun bagi yang mau bercerita, insyaAllah saya akan dengan setia mendengarkan :)
Kalo ada apa-apa cerita ya. Sama siapa aja terserah. Nggak mesti harus cerita sama aku. Pokoknya cerita sama orang yang kamu percaya
Kalimat itu adalah satu hal yang selalu saya ingatkan kepada semua teman. Menurut saya seseorang tidak mungkin menanggung beban perasaannya sendiri. Kalaupun bisa pasti akan ada batasnya. Kita tidak pernah tahu kapan kita mencapai batas itu. Dan kita juga tidak tahu hal-hal apa yang akan terjadi jika telah berada dalam ambang batas. Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi bila kita terlalu lama memendam sesuatu sendirian. Perlu seseorang lain yang juga memahami perasaan tersebut. 

Ibarat sebuah gelas yang diisi air terus menerus tanpa meminumnya, lama kelamaan akan tumpah juga air di gelas itu. Sama seperti manusia, ketika ia ditimpa masalah terus menerus tanpa pernah menceritakannya dan hanya memendamnya sendiri suatu saat pasti akan meledak juga. 


Karena dari itu saya nggak pernah capek untuk mengingatkan mereka untuk bercerita apapun yang mengganggu pikiran mereka. Meskipun dengan bercerita tidak selalu dapat menyelesaikan masalah, at least orang lain dapat memahami perasaan dan posisi kita. Dan saya yakin itu dapat membuat rasa beban berkurang dikit demi sedikit. 

Saya harap...setiap orang tidak memendam masalahnya sendiri. Bercerita lah kepada seseorang yang dapat dipercaya. Seseorang yang mampu menjaga rahasia diantara keduanya. Dan...jadilah pendengar yang baik. Tanpa disadari sejujurnya semesta pun telah menunjukkan bahwa kita harus menjadi pendengar yang baik. Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut bukanlah tanpa maksud. Hal ini menunjukkan bahwa kita harus lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Selamat malam peeps dan selamat beristirahat! ^^ 

Kamis, 31 Desember 2015

Denting Pergantian Waktu

Tiga jam menuju pergantian tahun.

Seperti sudah menjadi rutinitas untuk menulis catatan penutup tahun, malam ini tidak absen untuk menulis review selama setahun. Satu mangkuk sup kacang merah buatan Ibu baru saja selesai kusantap. Sedikit meninggalkan sisa di bibir karena lemak tapi tak apa karena rasanya yang nikmat. Sama persis dengan tahun 2015 ini. Begitu banyak cerita yang (jika bisa) kusimpan dalam dompetku. Sehingga tiap aku bosan setidaknya aku tahu 2015ku memiliki banyak kenangan.

Pergantian tahun baru kali ini sepi, sunyi masih tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dimalam pergantian tahun dua tahun yang lalu Tokyo bak sebuah kota mati. Jauh dari hiruk pikuk, tidak ada kembang api. Benar-benar diluar ekspetasi. Aku pikir Tokyo akan bertabur kembang api, tetapi ternyata Tokyo justru bertabur doa. Ya, warga Tokyo memang merayakan tahun baru mereka dengan beribadah ke kuil. Dan kami berempat, bapak ibu mas aku hanya meringkuk dalam kamar menghangatkan tubuh. Setahun lalu pergantian tahun aku lewati bertiga bersama bapak dan ibu dirumah Surabaya. Bertiga kami habiskan malam dengan menonton film dan makan-makan cantik. Dan malam ini, di malam pergantian tahun baru 2016 aku hanya berdua dengan Ibu dirumah. Sedangkan bapak dan mas tetap berada di Jakarta. Ah... 

Kesunyian makin menjadi-jadi karena UAS take home bahasa indonesia dan TPI telah menanti. Menggoda kami para mahasiswa ilmu komunikasi merengek-rengek minta dinodai. Terimakasih kepada dosen-dosen kami yang sangat perhatian. Karena lebih mulia pergantian tahun diisi dengan mengerjakan tugas daripada menggalau urusan pacaran. Meskipun pada akhirnya saya berhenti dan berakhir menulis post ini. Tidak apa-apa, karena seperti jingle BSK 2015
hei arek-arek sangar komunikasi. ayo semangat dan tak usah bersedih
365 hari terakhir banyak hal terjadi. Kesedihan dan kegalauan ala-ala remaja mengawali enam bulan pertama 2015. Tapi saat ini terbayar sudah. Alhamdulillah kebahagiaan dan kenikmataan telah dikaruanikan oleh Allah. Tak terhitung jutaan uraian air mata dan gelak tawa yang turut menjadi pendamping di setiap peristiwa.

Bagaimana peristiwa Februari lalu membuat hati ini semakin mantap untuk menerima kenyataan. Bertahan untuk seseorang yang tidak memiliki perasaan yang sama bukanlah hal yang tepat. Hanya buang-buang dan menguras tenaga serta pikiran. Tetapi terimakasih tetap kuucapkan. Terimakasih karena telah mengajarkanku untuk beradu dengan logika dan perasaan selama dua tahun belakangan. Hingga membuat hatiku kuat seperti sekarang. Ketika logika sudah termakan dan dibutakan oleh berbagai alasan untuk tidak mengikhlaskan seseorang, perasaanlah yang harus mulai berjalan. Coba berpikir kembali dengan perasaan seberapa pantas seseorang perlu untuk diperjuangkan. Butuh alasan yang tepat dan sejalan menurut logika serta perasaan mengapa kita harus bertahan.

Urusan masa depan juga tidak kalah seru. Perjuangan mencapai masa depan yang dilalui selama berbulan-bulan. Seabrek ujian dilewati untuk kelulusan. Yay, aku lulus SMA! Tapi...tidak berhenti disitu teman. Bagaimana perjalanan panjang untuk mendapatkan bangku di perkuliahan. Diterjang ujian masuk perguruan tinggi dan ujian kehidupan. Membuat kondisi hati ini semakin fluktuatif. Tak kalah hebat dari guncangan yang kurasakan pada saat aku menaiki rollercoaster. Bahkan bila mungkin meledak sudah semuanya. Bulan mei hingga juli makan tidur tidak lagi menjadi hal yang mengasyikkan. Hingga akhirnya pecah pengumuman. Akhirnya tak sia-sia tiap malam aku bergumul dengan tumpukan soal-soal. Sekali lagi, terimakasih ya Allah :)

Dan enam bulan terakhir Allah memberiku sebuah keluarga baru. Teman/mas/mbak/pak/bu commers unair. Ya, kencan dengan soal-soal SBMPTN selama berbulan-bulan mengantarkanku ke jurusan idaman. Jurusan yang kuinginkan sejak duduk di awal bangku SMA. Disaat aku berserah apapun jurusan yang nanti akan kudapatkan, ternyata Allah percaya bahwa aku pantas dan mampu untuk menjalani kuliahku disini. Awal perkuliahan aku mengalami gegar budaya. Rindu SMA, rindu teman, bingung apa yang harus kulakukan. Melihat banyak teman telah meniti karier membuatku hatiku bercampur aduk tidak karuan. Bercerita menjadi obat bagi pelipur lara. Bukan satu dua, tapi hampir semua sahabat, teman dekat, dan orang tua aku ceritakan mengenai kegundahan ini. Satu lagi yang bakal tidak terlupakan di awal perkuliahan. Peristiwa yang masih membekas hingga diujung tahun, Baur Sedalu Komunikasi (BSK). Sebuah acara ospek jurusan milik ilmu komnuikasi unair. Masih kangeeen. Masa-masa perkuliahan yang indah sebelum negara api menyerang, ups, maaf maksudku oleh setumpuk tugas. Tapi selalu kuingat ketika Allah telah membayar semua peluh dan tangisku akhirnya Allah memberi jurusan yang kuinginkan. Dan itu artinya aku harus yakin bahwa aku mampu. Kurangi mengeluh dan banyak-banyak bersyukur serta menikmati karena masih diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Alhamdulillah :)

Tahun 2015 juga menjadi lebih berwarna setelah aku tercebur dalam dunia Korea. Aku jatuh cinta dengan YG artist. Bigbang, ikon, winner, akdong musician, epik high...semuanya! Menikmati cuplikan konser dari dunia maya sudah lebih dari cukup buatku. Menonton variety show yang mereka bintangi, running man, happy together, dan bahkan show me the money! Selama ini nggak pernah suka sama lagu genre rap hingga akhirnya jatuh hati dengan lagu milik Mino Winner ft Taeyang Bigbang - Fear pada semifinal show me the money (SMTM) 4. Kemudian jatuh cinta dengan Climax dari Team B (yang saat ini bernama iKon) yang dibawakan pada saat Who Is Next (WIN) era. Terimakasih papa Yang Hyang Suk yang mengawali tahun dengan comeback Bigbang dan mengakhiri tahun dengan debut iKon. 2015ku menjadi lebih menyenangkan! Bigbang dan iKon menjadi penyemangat saat suntuk datang didera oleh abjad yang tersusun rapi di buku Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar milik Deddy Mulyana.  감사합니다 오빠

Terimakasih kepada bapak ibu yang tak pernah berhenti mendoakan Nindi. Yang selalu memberi semangat untuk dapat melewati naik turunnya kehidupan. Yang selalu memberi saran tentang manis pahitnya kehidupan percintaan. Terimakasih telah hadir dalam setiap bagian hidup Nindi. Terimakasih untuk seseorang yang telah membuat hati saya kuat seperti sekarang. Terimakasih teman-teman SMA, semoga kalian sukses di dunia perkuliahan. Terimakasih haha and the gengs, astrid, dea, reva, ridwan, ona, satria...meskipun kuliah kita beda-beda kota semoga kita tetap bisa selalu dukung satu sama lain. Terimakasih telah selalu menyediakan tempat untuk mendengarkan curhatan Nindi (yang kadang kurang penting) terutama saat Nindi belum mendapatkan bangku di perkuliahan. Terimakasih keluarga baruku commers 2015 dan mbak mas commers juga. Kita memang sangar. Tahun baru sama tugas pun juga tetap kuat. Meskipun kadang grup kelewat rame dan bikin notif jebol, cuma baca chat grup aja bisa ketawa-ketiwi. Meme-meme yang bertaburan apalagi...MANTAP! (kemudian masukin memenya Bli). Terimakasih Bigbang dan iKon yang tidak pernah gagal membuat saya kegirangan tidak karuan. Nindi jadi lebih banyak tersenyum tahun ini juga karena kalian. Terimakasih juga kepada seorang teman yang diakhir bulan telah mengingatkan
'...Semangat kuliahnya yang pinter'.
Dan...terimakasih yaAllah masih memberikanku nafas. Terimakasih atas sejuta pengalaman yang menjadi pelajaran berharga di tahun 2015. Jadi...terimakasih 2015. 

Tak terasa 2016 akan datang satu jam lagi. Semoga kehangatan selalu menyertai malam kalian peeps. Sampai jumpa lagi di 2016 ^^ Much love :3

Jumat, 29 November 2013

BLAH!

The time when you don't know what actually makes you cry is the hardest feeling ever. You've tried to handle it, but the the tears won't stop and still falling out continuously.

Jumat, 20 September 2013

Ceritaku di Stasiun (Late Story)

Bukan...ini bukan sebuah cerpen. Apalagi cerpen tentang cinta yang menceritakan 2 anak manusia yang menjalin hubungan dan harus terpisahkan dengan jarak yang beribu-ribu kilometer jauhnya.

Ini hanya sebuah cerita, tentang bagaimana saya dapat melihat lebih 'jeli' bahwa kerasnya hidup memang mau tidak mau harus dijalani. Dan seberat apapun itu kita harus ikhlas dan tawakal kepada Allah.

Sebelumnya saya menghabiskan waktu di Magelang--kota yang penuh cerita (itu kata mereka--para pengabdi bangsa yang ditempa disana) selama 2 hari 1 malam. Saya dan kedua orang tua saya mengikuti acara reuni akbar 25th yang rutin digelar di kota tersebut. Pada malam kedua, kami memutuskan untuk langsung kembali ke Jakarta karena satu dan lain hal.

Malam itu, pengemudi kami mengantarkan ke stasiun Tugu, Jogjakarta. Barang bawaan kami cukup banyak. Belum ditambah lagi dengan bantal kesayangan saya--moo yang sedikit menjadikan keadaan agak riweuh. Maka kami memanggil satu kuli panggul untuk membantu membawa barang bawaan kami. Ya, disinilah saya mulai menyadari bahwa--ada sesuatu yang berdesir di hati saya.

Saya tidak tahu, apa mungkin...selama ini saya terlalu banyak melihat kehidupan kota Surabaya dengan sisi kacamata duniawi? Padahal...keringat yang berpeluh-peluh, jerit dan tangisan...semua itu juga saya saksikan dan rasakan di kota pahlawan. Tetapi...mungkin semua itu tertutup dengan kehidupan yang penuh gelak tawa serta langkah kaki yang membawa tas-tas belanjaan, caci-maki atas pekerjaan yang tidak beres, gerutu dan keluh kesah pelajar akan tugas yang menumpuk--walaupun sebenarnya, masih ada sebagian kecil dari penduduk kota yang mampu mengucap syukur kepada Allah sekalipun jalan yang ditempuhnya begitu berat dan hidup dalam segala keterbatasan.

Kembali ke awal. Tidak berhenti disitu. Setelah masuk peron, pemandangan yang kembali miris datang silih berganti. Dimulai dengan seorang ibu yang menjajakan oleh-oleh khas jogja, bapak yang menjual kacamata hingga nenek yang masih kuat berjualan nasi bungkus di kala usia senjanya. Padahal saat itu, kami akan menaiki kereta terakhir yaitu pukul 11 malam. Bukan hanya itu, saya juga tertegun melihat berapa pasang mata yang masih membuka matanya di waktu istirahat seperti ini untuk menafkahi keluarga mereka. Ya, mereka berjuang semata-mata hanya agar dapat menghidupi, memberi makan, menyekolahkan anak-anak mereka. Baginya, kesenangan yang tak ternilai adalah ketika mendapat penghasilan yang lebih di hari itu.

Melalui kereta, mereka bercerita. Lewat kereta, mata, hati serta pikiran ini mulai kembali terbuka. Esok paginya, dari jendela kereta saya mulai kembali meraba-raba tentang mereka. Ya, sesaat sebelum sampai Jakarta pemandangan yang membuat saya berdesir tidak datang hanya cukup sekali saja. Ia datang terus-menerus di sepanjang perjalan. Pemukiman kumuh yang sungguh sebenarnya tidaklah kondusif bagi kesehatan. Belum ditambah dengan adanya tumpukan sampah yang menggunung dirumah mereka. Miris rasanya. Kemudian juga ada seorang anak kecil yang bertubuh mungil sedang membantu ibunya. Keadaan seperti ini, mungkin sudah jarang ditemukan di kota-kota besar.

Ketika melewati stasiun-stasiun kecil seperti Manggarai dsb, saya juga melihat bagaiman riuhnya stasiun yang pagi itu mulai dijubeli oleh manusia-manusia. Raut muka mereka...memang tidak semua menandakan rasa iba. Tetapi...disetiap garis wajahnya, disetiap langkah kakinya, mereka memliki keyakinan akan secercah harapan yang mungkin suatu saat akan datang dari Sang Ilahi dan merubah hidupnya--untuk keluarganya.

Saya pikir, setiap tempat selalu memiliki cerita. Tetapi bagi saya, stasiun dan kereta memiliki makna yang berbeda. Karena mereka mampu memberikan suatu cerita bagi kita--yang berada didalamnya, untuk kembali merenungi kehidupan ini. Mereka memang tidak menceritakannya secara lugas, namun dengan tersiratnya pemandangan-pemandangan--yang sebenarnya para masinis tidak menyengajakannya--justru mampu menggoyahkan hati kita dan mungkin...akan menitikan air mata iba.

Kita terkadang masih memiliki rasa iri ataupun dengki dengan orang-orang disekitar kita. Ya, persaingan. Di era industri seperti ini, persaingan ada untuk membuktikan siapa yang lebih baik. Keluh kesah adalah kalimat yang sudah jamak diucapkan maupun didengarkan. Kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan hanya mengejar materi. Padahal diluar sana, banyak saudara-saudara kita yang masih hidup terbelenggu dalam 'kejamnya' dunia. Sedikit pun kita terkadang lupa dengan mereka. Berpapasan pun, yang ada mungkin hanyalah sebuah tatapan dari mata yang dipicingkan.

Dan akhirnya saya menyadari, mungkin ini memang jalan Allah untuk mengingatkan setiap umatNya agar selalu bersyukur atas limpahan rahmat dan nikmatNya. Sebagai manusia yang hidup yang penuh dengan persaingan baiknya kita selalu...
Melihat keatas untuk memotivasi, dan melihat kebawah untuk bersyukur
Dan juga...ingat DUIT! Doa, usaha, ikhlas dan tawakal. Karena segala sesuatu yang dilandasi dengan ikhlas, seberat dan sekeras apapun akan terasa ringan dan menyenangkan. Tanpa kerja keras, doa saja pun tak cukup. Tanpa doa, kerja keras pun juga tak cukup. Seperti firman Allah SWT:
"...إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ..."
Artinya: "...Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..."  QS. Ar-Ra'd (11)

See you in next post :-) 

Minggu, 23 Desember 2012

Menyalahkan

          Waktu dan keadaan. Dua hal inilah yang terkadang ingin disalahkan oleh kebanyakan manusia, termasuk saya. Seiring waktu yang tidak dapat kita hentikan, maka keadaan pula juga akan selalu berubah. Membuat perubahan pada setiap manusia.
          Pasti banyak diantara kita yang sering berkata "Ah, andai waktu bisa diulang kembali ya," "coba dulu nggak kaya gitu...mungkin sekarang nggak akan kaya gini," "punya mesin waktu enak mungkin ya...," "coba kita bisa hidup dalam satu masa yang menurut kita paling menyenangkan," Dan masih banyak sekali keluhan-keluhan lain dari manusia akibat waktu yang selalu berjalan.
          Mereka--para manusia mengeluh karena mereka mengalami perubahan-perubahan yang entah itu semakin baik atau semakin buruk. Mulai dari masalah karir, cinta, pertemanan. Semuanya. Waktu, telah membuat orang berubah. Berubah karena keadaan. Tetapi sangatlah tidak etis rasanya bahwa kita ingin menyalahkannya--waktu dan begitu pula keadaan. Waktu adalah anugrah yang telah diberikan oleh Yang Kuasa. Harusnya kita malah berterimakasih kepadaNya karena masih diberikan nafas disetiap detik-detik waktu kehidupan. Dan seharusnya, kita sebagai manusia yang selalu hidup dalam segala keadaan karena adanya perubahan waktu harus dapat mensikapi dengan bijak apa yang terjadi pada diri kita dan disekitar kita. Bukan malah menyalahkan keadaan luar.


Sabtu, 08 Desember 2012

mungkinkah?

              Terkadang sering tiba-tiba muncul pikiran macem-macem. Terus mikir apa iya ya jangan-jangan...um maksudnya mungkin mereka lagi nyanyi sebuah lagu yang pas menggambarkan keadaan mereka sekarang...mungkin...lagu ini...
"...Kamu masih anak sekolah, satu SMA. Belum tepat waktu untuk begitu begini. Anak sekolah, datang kemari. Dua atau tiga tahun lagi..." Chrisye - Anak Sekolah

Kamis, 15 November 2012

ayo pilih

"Lebih pilih mana? Sakit karena diberitau langsung atau sakit karena tau sudah dibohongi dan kita taunya dari orang lain ataupun hasil stalking?"

Sabtu, 15 September 2012

pernah nggak sih?

pernah nggak sih kalian punya perasaan kalo Tuhan itu nggak adil sama kita?

pernah nggak sih kalian berfikir 'kenapa sih kok aku nggak bisa kaya dia? apa aku ini nggak punya kelebihan sama sekali?'

pernah nggak sih kalian ngalamin hati kalian itu sumpek banget dan pengen nangis untuk ngluapin semuanya?

pernah nggak sih kalian ngerasa kalian sendirian di dunia ini?

pernah nggak sih kalian mikir kalo kalian belum pernah atau belum cukup mbanggain ortu atas prestasi diri kita?

dan, wajar nggak sih ini?