Rabu, 22 Juli 2015

Comeback (part 2 : Bersemedi)

Pada akhirnya hari itu datang juga, 9 Mei 2015. Hari itu datang begitu cepat. Cepat banget. Saya deg-degan bukan main. Saya sangat berharap untuk dapat diterima di jalur ini. Meskipun saya begitu optimis, saya tetap harus bisa menata hati bila nantinya kenyataan itu tidak berjalan sesuai dengan keinginan saya. 

Sore itu saya duduk bersama ibu saya dikamar untuk menunggu pengumuman SNMPTN. Setelah saya memasukkan nomer peserta SNMPTN dan hasilnya adalah...saya dinyatakan tidak diterima. Saya hampir roboh saat itu, air mata saya mengalir deras seolah-olah saya tidak punya harapan lagi. Ibu saya jauh lebih shock daripada saya. Karena Ibu juga sangat menginginkan saya untuk dapat diterima di SNMPTN sehingga saya tidak perlu mengikuti tes lagi. Saya sedih. Banget. Apalagi setelah mengetahui geng sepermainan saya di SMP 6 dari 8 dan teman-teman saya yang tidak begitu pandai juga dapat diterima di SNMPTN. Saya semakin terpuruk. Hal ini menimbulkan banyak asumsi diantara saya dan orangtua saya mengapa saya tidak diterima. Apa aku bodoh? Apa nilai aku kurang? Apa aku salah pilih jurusan? But guessing can't solve the problem rite? 

Tidak diterima dalam SNMPTN bukanlah akhir dari segalanya. Masih banyak cara yang bisa saya tempuh. Hal itulah yang memacu saya untuk tetap semangat belajar. Bahkan sebagian orang mengatakan bahwa SNMPTN adalah misteri terbesar abad-20. Yang saya lakukan kemudian adalah bersemedi selama satu bulan. Tidak untuk diartikan secara harfiah kemudian saya duduk di goa, nggak peeps. Bersemedi yang saya lakukan adalah menghilang dari dunia maya untuk sejenak. Rutinitas saya berubah 180°. Setiap pagi setelah bangun subuh saya langsung makan, mandi kemudian les hingga pukul 12 siang. Setelah sampai dirumah saya sholat dzuhur,makan lalu boci. Sore saya mandi, sholat kemudian dilanjut belajar hingga pukul 11 malam. Paling hanya disela untuk waktu sholat maghrib dan isya serta makan malam. Begitu terus yang saya lakukan selama satu bulan. Tidak ada kata mengeluh. Yang ada hanya belajar dan berdoa.
Do not pray for an easy life, pray for the strength to endure a difficult one - Bruce Lee
Ya, saya berdoa kepada Allah untuk diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ini semua. Mungkin memang Allah ingin memberikan kesempatan pada saya untuk membenahi diri. Untuk belajar lebih giat, untuk beribadah lebih khusyuk kepadaNya. Saya berusaha untuk berpikir positif mengenai hal itu. Karena orang bilang bahwa ujian hidup adalah hal yang mampu meningkatkan kualitas pribadi. 

Nggak cuma memperbaiki hubungan antara diri saya dengan Tuhan aja sih. Saya juga berusaha untuk menjadi lebih baik untuk orang-orang disekitar saya. Dengan bantu mereka, dengan buat mereka senang. Sesuatu yang...yaaa...mungkin saya kurang lakukan sebelumnya. Saya juga bener-bener ngilang dari sosial media. Buka line kalo ada perlu aja, cek instagram...tetep hehe.-. Tapi ketika saya belajar maka saya akan serius belajar. Dan ketika saya lelah dan butuh break maka saya manfaatin bener buat leyeh-leyeh.

Saya hanya memiliki waktu satu bulan untuk membekali diri pada 9 Juni 2015. Hari dimana saya harus bertempur. Menyatukan kemampuan dan mental saya. Alhamdulillah semua begitu lancar. Soal-soal yang saya kerjakan tidak sesulit yang saya pikir. TPAnya begitu menyenangkan. Saya juga sudah memiliki formula untuk soal-soal yang harus saya kerjakan. Memutuskan yang mana yang harus dan tidak harus dijawab. Selama saya mengikuti try out di bimbel saya berusaha mengkondisikan bahwa saya tengah melaksanakan ujian SBMPTN. Selalu teriring kata bismillah dan senyuman di setiap soal yang saya kerjakan.

Lalu, bagaimana satu bulan setelah itu? Apakah pengorbanan ini berakhir dengan manis ataukah pahit? Simak lagi yaa di part 3

 

0 komentar: