Sabtu, 08 Juni 2013

Rumitnya Pendidikan di Indonesia

Dari judulnya kayanya sih banyak orang yang udah berfikir "emang rumit kali ya." Well, dunia pendidikan di Indonesia itu nggak pernah ada matinya dari kata "rumit." Rombak sana-sini. Peraturan yang diganti per berapa tahun sekali yang juga menyebabkan banyak siswa yang kelimpungan.
Rumit yang dimaksud akan saya gambarkan dari kacamata saya--seorang pelajar berseragam abu-abu yang terkadang banyak pertanyaan yang muncul tiba-tiba dan kerjanya mengamati keadaan sekitar serta notabene yang kerjanya bertengger dari rumah-sekolah begitu terus setiap lima kali dari seminggu.

A. Kita mulai dari yang masih hangat. Unas. Unas tahun ini banyak sekali menuai kontroversi. Mulai dari tipe soal yang berjumlah 20 sampai sistem soal yang menggunakan barcode. Saya hanya nyengir, memangnya soal unas kebutuhan rumah tangga di supermarket gitu ya? Hehe...

Saya sih setuju-setuju aja dengan keputusan ini. Menurut saya bagus...karena...sedikit banyak dapat meminimalisir kecurangan yang terjadi di para pelajar. Pasti paham dong dengan apa yang dimaksud...ya, joki. Dan juga mungkin karena saya...bukan individualis ya...tapi...saya selalu berusaha semampu saya untuk mengerjakan sesuatu dengan jujur untuk masalah ujian. Baik itu ulangan harian, tengah semester, kenaikan kelas ataupun unas. Tahun saya kemarin saja, dengan lima paket masih ada yang bermain dibelakang. I-uk, i-uk. Mereka sangat-sangat berusaha untuk berlomba mendapatkan hasil unas yang absolut. Dan hasilnya...bukan main luar biasa! Tahun saya danem 38-39 sudah kaya kacang godok di Gelora Bung Karno semalem. Bertebaran dan mudah banget buat dapet segitu. Sedangkan saya? Dengan sikap saya yang kekeuh untuk berusaha jujur ya menerima kekecewaan karena danem saya yang bisa dibilang kala itu tergolong sedikit minim. Intinya, joki itu memiliki kekuasaan banget deh.

Naaah, dengan sekarang diberlakukannya 20 paket...mungkin...si para joki tuh kewalahan kali ngerjain... Mmm, berapa tuh ya...20 paket dikali empat mapel. 80 soal! Yakin deh joki-joki itu past mana tahan banget suruh ngerjain segitu banyak. Hahahaha... Tapi sayangnya, adek-adek setahun dibawah saya ini banyak yang riwil gitu deh ya. Caci maki pemerintah di sosial media. Yang katanya "mau bikin siswanya pinter kok susah amat." Hiyaaa, kalimat itu mungkin udah sering ya dilontarin sampek-sampek kita yang ndengerin aja udah bosen. Tolong deh ya, kalau kamu sudah yakin dengan kemampuan kamu ya...buat apa marah-marah sampai kaya gitu? Mau paket unas dibuat lima paket kek, 20, 270 atau berapapun kalau kamu siap dan sanggup serta yakin bisa mengerjakan soal unas tersebut ya ngapain keki-keki? Ya nggak-ya nggak?

Untungnya aja sih ya pemerintah nggak nge-block atau istilahnya 'nge-cing' anak-anak yang caci maki pemerintah dengan nggak ngebolehin mereka untuk ikut unas. Nahlo hayooo? Gimana coba kalau kaya gitu? Makanyaaa, dengan kemajuan tekhnologi yang sudah seperti ini dan sosial media yang sudah seperti buku diary berjalan itu jangan disalah gunakan artinya. Sosial media itu tempat untuk berbagi, bukan untuk saling mencaci maki. Dengan kamu menuliskan kata-kata yang kurang pantas, maka itu menunjukkan bagaimana latar belakang diri kamu. Although some people say "don't judge person by their tweet."

B. Selanjutnya adalah pemberhentian program RSBI.
Kalau yang ini saya sangat-sangat tidak setuju. Banyak orang diluaran sana yang selalu berfikir bahwa sekolah RSBI adalah sekolah berstandar internasional yang ditujukan pada kaum menengah keatas.
Padahal kenyataannya TIDAK! Oke, mungkin saya hanya melihat kasus ini dari sisi sudut pandang saya dan teman-teman saya saja. Selama ini saya sudah mengenyam kurang lebih empat tahun disekolah yang menyandang status RSBI. Daaannn...faktanya di lapangan saya memiliki teman dari berbagai macam kelas. Tidak mesti semuanya adalah anak-anak orang menengah keatas. Beberapa sih, memang iya. Tapi itu bukan menjadi alasan karena mereka dapat membayar "lebih" ke sekolah.

Kita untuk dapat masuk ke sekolah RSBI itu perjuangannya bukan main. Unas adalah salah satu seleksi awal untuk dapat masuk ke sekolah RSBI. Tidak cukup sampai disitu saja. Para siswa yang nilai Unas nya masuk dalam kriteria untuk dapat masuk ke sekolah RSBI harus di tes terlebih dahulu. Mapel yang diujikan adalah matematika, ipa dan b.inggris. Dan, kebanyakan dari soal tersebut adalah menggunakan logika serta beberapa menggunakan b.inggris. Pengalaman saya dulu waktu mengikuti tes untuk masuk ke SMP RSBI, saya pernah mendapatkan soal di mapel ipa yang materi itu saya dapatkan ketika duduk di kelas 9. Wow! Tahu kan betapa susahnya? Ketika sekolah RSBI itu didominasi (walaupun sebenarnya belum tentu) oleh kaum konglomerat...itu bukan karena mereka "wani piro", itu hanyalah suatu kebetulan saja. Tetapi memang kita tidak dapat memungkiri kan bahwa anak yang terlahir dari keluarga menengah & menengah keatas memiliki wawasan dan kemampuan yang lebih daripada anak dari keluarga menengah kebawah. Hal ini karena dorongan lingkungan terlebih dari orangtua, asupan gizi serta fasilitas yang diberikan orangtua mereka untuk menunjang pendidikan anaknya.

Selain itu adalah masalah biaya. Oke, lagi-lagi saya berkata bahwa mungkin ini dari sudut pandang saya dan teman-teman saya saja. Selama 4 tahun saya bersekolah di sekolah negeri yang menyandang predikat RSBI, orangtua saya tidak pernah membayar sepeser pun untuk SPP. Ya, di Surabaya...kota sekarang saya berpijak...sekolah mulai dari yang reguler hingga yang RSBI semuanya GRATIS TIS TIS TIS TIS! Sumpah...kalo boleh saya mengambil kata-kata yang sedang nge-tren oleh Arya Wiguna sih...DEMI TUHAN deh ya... Mungkin lain Surabaya lain pula kota lainnya... Jangankan jauh-jauh yang kota metropolitan, kota yang bertetangga dengan Surabaya pun harus membayar segala macam... Sedangkan saya...sepeser pun tak! Bahagia memang. Meski begitu, sekolah RSBI saya dulu juga memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Makanya...masih ingat kah dengan kejadian ketika Walikota Surabaya tercinta ini Ibu Risma sangat-sangat memperjuangkan agar status sekolah RSBI di Surabaya tidak dicabut? Itu dikarenakan pendidikan di Surabaya yang laksana surgaaa... Dan terkadang, orang sering mencibir bahwa RSBI hanyalah suatu embel-embel belaka. Untuk gaya-gayan, untuk pembeda status atau apalah. Padahal faktanya tidak demikian, sekolah RSBI adalah sekolah yang semulanya...atau mungkin sudah daridulu kala merupakan sekolah yang memiliki grade tinggi. Bahkan sejak Ibu saya masih mengenyam bangku putih-biru. Sehingga materi yang diberikan ataupun cara penyampaian yang disampaikan berbeda dengan sekolah reguler. Karena kami, adalah anak-anak yang telah tersaring dari sekian ribu pendaftar dari segala penjuru. Jadi, RSBI bukan hanya sebagai alat untuk keren-kerenan, bukan. Ibaratnya, kami adalah sang juara sperma yang telah berlomba-lomba dengan jutaan sperma lainnya untuk mendapatkan ovum tersebut, yaitu bangku di sekolah RSBI. Asal memiliki kepandaian, kita bisa kok masuk ke sekolah yang memiliki grade tinggi...dari golongan keluarga manapun kamu berasal. Asalkan ada kemauan untuk maju, pasti Allah akan memberikan jalan :-)

Kini, sekolah RSBI telah berubah nama menjadi sekolah kawasan. Yaitu sekolah yang dianggap paling mumpuni disetiap daerah. Yaitu pusat, timur, barat, utara dan selatan. Daaan, *jengjeng* standarisasi untuk dapat mengikuti (kini) tes TPA berkurang! Waaah, kalau sudah gini ya tahunnya saya yang paling jealous menerima berita ini. Hahahaha... As I told before, tahun saya nilai danem gila-gilaan dan pada saat itu nilai minimal yang digunakan adalah 34,00 dan tidak boleh ada mapel yang nilainya dibawah 7,50. Sedangkan sekarang tidak boleh ada mapel 7,25. Dandandan, terbukti kaaan...adek-adek setahun dibawah saya ini kembali riwil. Menurut saya, pemerintah telah bersikap adil (pis adek-adek :*). Karena tahun ini, danem tidak gila-gilaan atau bahkan mungkin bisa dibilang jeblok! Maka dari itu pemerintah mengatasi dengan penurunan nilai minimal di setiap mapel. Sehingga yang dapat bersaing merebutkan bangku sekolah kawasan itu semakin bertambah. Daaan, ketika kamu memang sudah mendapatkan nilai yang kamu harapkan ya adek-adek...36 keatas itu buagus banget ya...(karena dulu saya dibawah itu-_-) you shouldn't talk to much and give a critic to government in social media. You're leading for this step. So why you're worry?

Jugaaa, big congrats SMP Negeri 1 Surabaya 10 besar peraih nilai Unas murni tertinggi se-INDONESIA! You rock guys! Keep fighting untuk dapat masuk ke sekolah yang kalian impikan, dan selalu rendah hati ya! Tanamkan ilmu padi ;-)

Mungkin cuma dua persoalan saja yang saya bicarakan...karena saya...capek ngetik dan sudah mulai buntu. Hehehehe, lagi nunggu nilai UKK yang keluarnya perlahan-lahan kaya nunggu pembukaan kelahiran anak pertama gitu deh... bikin dag-dig-dug-serrr... Semoga bisa lulus KKM semua jadi bisa libur totalll...aminnn.
Oiya, saya sekarang lagi keranjingen buat nonton film Disney secara online hihihi :3 nih linknya: http://freedisneymovies.blogspot.com

Anw, happy saturday y'all :-) met bergiat, met bermalam minggu semua nyaaa... hope you're fine mas cims hehe love you anyways <3>

0 komentar: