Nyaw nyaw nyawww...
padahal tadi sebelum buka blog udah kepikiran bakal nulis apaan...eh begitu udah buka malah bingung mau nulis apa -.- takut serba salah nulisnya... takut dibilang "wani e mek ngomong nang mburi... nek gak seneng yo ngomong nang ngarep rek" (beraninya cuma ngomong dibelakang, kalo emang nggak suka yang ngomong aja didepan-red.) yak itu sepenggal kalimat boso suroboyoan yang maksudnya...bisa dibilang...orang backstab kali ya... eh nggak juga ding menurut saya hehe...
apa ya...tentang hal dan masalah yang sama. yang udah saya bolak-balik ceritain ke siapapun! ya siapapun yang mau dengerin masalah saya yang satu ini. udah berulang kali. sama orang tua--ibu terutama, murid-muridnya bapak yang udah saya anggep sebagai kakak sendiri. saya? rumput? nggak juga sih sebenernya.
ceritanya as I told you in my last post...I never feel 'comfort' in my new class (ps: sorry for my classmates but this is what I truly feel.) saya cuma merasa....saya itu invisible bagi mereka (lil' bit part of them)... apa ya... seems like they never can appreciate me. dengan apa yang sudah saya punya sekarang. saya memang nggak mau melebih-lebihkan juga sih. ya saya mohon maaf juga buat sebelumnya. saya tau, dengan saya nulis kaya gini...juga nggak akan menyelesaikan masalah yang kalo orang bilang masalah ini dibuat-buat sendiri sama saya. dan saya juga tau, suatu saat saya akan kecewa berat telah nulis tentang ini. tapi, ya memang benar gini adanya. apa yang saya--dan kaum minoritas yang lain dikelas rasakan. you should know about this guys. please understand us and let me give an opinion. orang yang bijaksana adalah orang yang selalu mendengarkan opini orang lain bukan?
bukannya saya mau sombong atau gimana. didalam lingkup ini, saya termasuk golongan yang tengah-tengah. mulai dari segi keluarga, sekolah, prestasi dan segala macam hal. tapi...mesti, selalu... kita...yang...golongan anak diem-nerd-weird atau apalah kata-kata kalian untuk mendeskripsikan kami. kita memang nggak selalu bisa diajak pergi-pergi. but somehow, we're all normally teen. we need to go out with our friends. at least you have to ask us for join with all of you for having fun. but, you--all of you never do it. ne-ver.
kalian anggap kami ini siapa? kalian dengan seenaknya sendiri. ibarat kata seperti bikin keputusan bak suatu pemerintahan tanpa minta persetujuan rakyat jelata nya gitu. kita disini, sama-sama belajar. punya kedudukan yang sama. masih kelas satu sma. ya kan? tapi apa...terkadang...kalian memperbudak kita. dan bodohnya lagi kita mau. kalian mau tau alasan yang sebenarnya? kita takut...kita hanya takut lebih tidak dianggap lagi. itu alasannya. kalian yang selalu datang ketika hanya ada maunya saja. waktu kalian butuh contekan pr, tugas, ulangan atau apalah itu... kita nggak papa kok, kita malah seneng dikasih tanggung jawab. itu sama artinya dengan kita diberi kepercayaan kan? hanya...yang membuat kita sedikit sebal itu karena... kalian jarang sekali atau bahkan mungkin tidak pernah melakukan sedikit hal manis ke kita. let me give an example....(eh nggak usah ding nggak perlu segitunya juga kali nin-_-).
berulang kali saya berada di titik jenuh. pada saat semester awal, setiap hari saya tak henti-hentinya bercerita apa saja yang baru terjadi di kelas dan teman-teman saya. dan...tak sadar, kadang bulir air mata jatuh dengan lembut. apa ya...semacam tak kuasa, merasa...argh. undescribable feeling banget. random gak sih. cuma gara-gara belum punya temen deket aja udah ngejer nangis sampek begitu. alay emang. cuma...hingga pada saat titik-titik jenuh tertentu.
saya--kami--kita hanya ingin untuk dihargai. intinya gitu. jangan datang waktu butuh aja dong. lagian, kita semua punya badan yang makroskopis kan? nggak perlu dilihat dengan bantuan mikroskop kan? kenapa kalian hanya untuk sekedar 'say hi' aja tidak bisa? itu hal yang menyakitkan. susahkah bagi kalian untuk melontarkan sapaan tersebut? atau...kah kalian memang menganggap kami tidak ada? jadi...kalian hanya berfiikir kita hanyalah butiran pentol? eh salah maksud saya...debu? seperti kata rumor. ah ya sudahlah.
honestly...I'd rather being an invisible than never be appreciated by people arounds me.
You know, sometimes when people starts to talk about their problems they just need to be heard without need a solution. It's like a water in the glass. When you always pour a water into the glass without you never drink that water...somehow the water will be flood up. It's same with our problems. We can't always keep our problems alone, we need to share with the other. Just to be heard. It can make you feel free. Right?
Minggu, 17 Maret 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar