Kamis, 20 Maret 2014

HAPPY 21st ANNIVERSARY



Banyak orang diluar sana yang mengatakan bahwa dua orang—laki-laki dan perempuan yang memiliki wajah mirip artinya jodoh. Beberapa orang benar memang benar mengalaminya. Tetapi ada juga yang tidak. Secara personal memang saya belum pernah merasakan bertemu dengan seorang laki-laki yang memiliki wajah sama seperti saya #uhuk (tapi kayanya sih ada *nyengir*). Namun saya mengenal dan juga memiliki pasangan yang sama seperti di kalimat pertama paragraf ini. Jodoh.

No matter how many miles away you go or how long you make a journey in your life—you will always find your way back to your home. That’s what I called a real soulmate.

Buat saya, jodoh itu seperti rumah. Tempat kamu kembali untuk pulang, tempat dimana kamu benar-benar bisa merasakan kehangatan, kenyamanan dan keamanan disana. Sesuatu didalam diri seseorang yang memang telah Allah ciptakan untuk menjadi pasangan kita. Yang mampu saling menjaga, saling menghormati, saling mendukung satu sama lain. Dan yang terpenting, tak lain dan tak bukan adalah menemani bagaimanapun keadaannya. Baik suka maupun duka.

Saya memiliki orang yang terpenting dan sangat berharga bagi saya. Logam mulia seperti berlian pun tidak akan dapat menggantikan mereka. Orangtua—Ibu dan Bapak saya. Kita tidak pernah bisa meminta orangtua atau anak seperti apa kepada Allah. Semua itu adalah titipan dariNya.

Pada hari ini—20 Maret 2014—21 tahun yang lalu kedua orangtua saya mengingatkan janji hidup semati. Dan tradisi itu—pedang pora—diselenggarakan pada 3 April 1993. Untuk meraih ke jenjang tersebut bukanlah suatu perkara yang mudah bagi kedua orangtua saya. Terutama Bapak.

Mereka berdua bertemu ketika Ibu saya masih berusia 14 tahun atau mungkin masih kelas 3 SMP. Dan pada saat itu Bapak saya sedang menempuh pendidikan akademi tahun pertama di Bumimoro, Surabaya yang kala itu masih berpangkat Sertar (Sersan Taruna). Can you imagine uh? After their long journey—almost 9 until 10 years—they’re getting married. For something that they never imagine and prepare before.

Cinta bisa datang dengan sendirinya. Itu yang harus orang tahu bahwa cinta dapat tumbuh karena terbiasa. Selama 9 tahun Bapak mengenal Ibu dan selama itu pula Bapak berusaha untuk mendapatkan hati Ibu. Dan tahu kan, untuk mendapatkan dan meraih hati seseorang yang tidak pernah memiliki perasaan terhadap kita bukanlah suatu perkara yang mudah. Bukan tantangan namanya bila tidak harus bersaing dengan sejumlah orang yang juga memiliki keinginan sama seperti bapak. Intinya, perjuangan.

Bagi sebuah simfoni yang tersusun dari not-not berwarna putih dan juga hitam. Maka begitulah suatu rumah tangga. Not putih melambangkan kebahagiaan, sedangkan not hitam melambangkan kesedihan. Tidak ada kejadian yang menyedihkan untuk dapat menguatkan suatu mahligai rumah tangga. Layaknya seorang pianis yang sangat legendaris—apabila kita dapat memainkannya dengan penuh perasaan, maka semua akan dapat terasa merdu dan—indah.

Begitu pula rumah tangga kedua orang tua saya. Untuk dapat menjalani hingga sejauh ini, ibarat sebuah kapal yang sedang mengarungi samudra—terpaan ombak dan badai selalu datang agar dapat mencapai ke tujuan hingga selamat.

Cobaan datang silih berganti. Mulai dari hal-hal kecil sampai besar. Mulai dari urusan di rumah, anak sakit dan...semuanya. Sebuah rumah tangga harus saling menguatkan dalam menghadapi suatu cobaan. Tetapi terkadang Ibu yang mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri untuk anak-anaknya—karena Bapak sedang jauh disana mengemban tugasnya sebagai seorang prajurit. Bagi seorang abdi negara, mengemban tugas untuk negeri dan bangsa ini adalah tugas utama—diatas segala-galanya—bahkan keluarga sekalipun.

Beruntung jika Bapak ditugaskan baik didalam ataupun diluar negeri yang masih dapat berkomunikasi. Bapak pernah 3 kali menjalankan tugas sebagai anggota PBB selama 1 tahun. Pada tahun 2003, Bapak ditugaskan di Kuwait. Selang 2 tahun, Bapak kembali bertugas di Kongo. Pada tahun itu pula, keluarga kami—terutama Ibu—sedang mengalami kesusahan. Bapak dari Ibu jatuh sakit dan pada tahun itu juga ibu kehilangan beliau. Dia harus bisa menguatkan dirinya sendiri ketika orang yang selalu mendampinginya tidak berada disisinya. Kemudian pada tahun 2009, Bapak ditugaskan di Lebanon. Pada saat itu, saya sedang mengalami sakit yang para dokter belum tahu apa penyebabnya. Saya harus melakukan pengambilan darah setiap hari untuk mengecek apa yang salah dari dalam diri saya. Melakukan transfusi darah sebanyak 4 kantong, menjalani CT-Scan dan—operasi. Saya mendekam diruang inap selama 1 bulan. Dan disaat itu, Ibu benar-benar panik akan keadaan saya. Seolah sesuatu menggoncang dirinya. Ibu sangat butuh kekuatan dari Bapak pada saat itu. Tapi Ibu meyakinkan bahwa tanpa Bapak pun, Ibu dapat menjalani semua ini.

3 tahun adalah waktu yang terlihat. Bapak lebih banyak ditugaskan di Jakarta sejak tahun 2004an. Untung saja pada 2012 Bapak bisa setahun bersama kami karena ditempatkan di Surabaya. Kini, Ibu sendiri lagi—ditinggal bapak yang sedang menempuh pendidikan di negeri Sakura. Ya, pada ulang tahun pernikahan yang ke 21 ini—mereka merayakan dari tempat yang berjauhan.

Meskipun sering terpisahkan oleh jarak dan waktu—bukan berarti Bapak mengurangi keintensifannya untuk memantau kondisi kami semua. Hampir setiap saat Ibu dan Bapak selalu memberikan kabar dan kondisi masing-masing. Setiap saat, setiap waktu. Bapak selalu memastikan bahwa keadaan kami baik-baik saja. Bahkan kini hampir setiap ada kesempatan Bapak meluangkan waktunya untuk ber-skype ria dengan Ibu.

Selalu banyak kesan dan pesan yang orang-orang dapatkan apabila mendengar cerita mengenai hubungan mereka berdua. Terlebih disaat waktu 9 tahun Bapak dalam perjuangannya untuk dapat mendapatkan hati dan meyakinkan Ibu. Semua selalu terkesan dengan cerita Ibu, terlebih beberapa murid Bapak yang sebagian dari mereka sedang mencari perjalanan untuk mencari pendamping hidup bagi mereka kelak nanti. Bahkan ada seseorang yang mengatakan bahwa nantinya ia akan membawa calon istrinya terlebih dahulu agar diberi nasihat oleh Ibu.

Ibu memang seorang Istri dan Ibu yang pantas untuk menjadi panutan. Tak heran jika kebanyakan dari mereka ingin memiliki—nantinya seorang Istri dan Ibu yang baik untuk dia dan anak-anak mereka kelak. Yang selalu dapat memasakkan kami makanan yang enak. Yang sederhana dan rendah hati. Dan selalu sejuk untuk bersamanya. Ibu adalah wanita yang selalu mendampingi Bapak dalam suka dan duka—dan yang terpenting—seseorang dibalik kesuksesan karir Bapak hingga detik ini.

Both of them might not have a beautiful story just like a Cinderella with her prince charming. They have their own story. And we can learn so many things from their story. That we should fight for someone whom we put our faith on. True love isn’t just come easily but you also have to fight it.

 
HAPPY 21st ANNIVERSARY IBU-BAPAK 

0 komentar: