Banyak orang diluar sana yang
mengatakan bahwa dua orang—laki-laki dan perempuan yang memiliki wajah mirip
artinya jodoh. Beberapa orang benar memang benar mengalaminya. Tetapi ada juga
yang tidak. Secara personal memang saya belum pernah merasakan bertemu dengan
seorang laki-laki yang memiliki wajah sama seperti saya #uhuk (tapi kayanya sih
ada *nyengir*). Namun saya mengenal dan juga memiliki pasangan yang sama
seperti di kalimat pertama paragraf ini. Jodoh.
No matter how many miles away you go or how
long you make a journey in your life—you will always find your way back to your
home. That’s what I called a real soulmate.
Buat saya,
jodoh itu seperti rumah. Tempat kamu kembali untuk pulang, tempat dimana kamu
benar-benar bisa merasakan kehangatan, kenyamanan dan keamanan disana. Sesuatu
didalam diri seseorang yang memang telah Allah ciptakan untuk menjadi pasangan
kita. Yang mampu saling menjaga, saling menghormati, saling mendukung satu sama
lain. Dan yang terpenting, tak lain dan tak bukan adalah menemani bagaimanapun
keadaannya. Baik suka maupun duka.
Saya memiliki
orang yang terpenting dan sangat berharga bagi saya. Logam mulia seperti
berlian pun tidak akan dapat menggantikan mereka. Orangtua—Ibu dan Bapak saya.
Kita tidak pernah bisa meminta orangtua atau anak seperti apa kepada Allah.
Semua itu adalah titipan dariNya.
Pada hari
ini—20 Maret 2014—21 tahun yang lalu kedua orangtua saya mengingatkan janji
hidup semati. Dan tradisi itu—pedang pora—diselenggarakan pada 3 April 1993.
Untuk meraih ke jenjang tersebut bukanlah suatu perkara yang mudah bagi kedua
orangtua saya. Terutama Bapak.
Mereka berdua
bertemu ketika Ibu saya masih berusia 14 tahun atau mungkin masih kelas 3 SMP.
Dan pada saat itu Bapak saya sedang menempuh pendidikan akademi tahun pertama
di Bumimoro, Surabaya yang kala itu masih berpangkat Sertar (Sersan Taruna).
Can you imagine uh? After their long journey—almost 9 until 10 years—they’re
getting married. For something that they never imagine and prepare before.
Cinta bisa
datang dengan sendirinya. Itu yang harus orang tahu bahwa cinta dapat tumbuh
karena terbiasa. Selama 9 tahun Bapak mengenal Ibu dan selama itu pula Bapak
berusaha untuk mendapatkan hati Ibu. Dan tahu kan, untuk mendapatkan dan meraih
hati seseorang yang tidak pernah memiliki perasaan terhadap kita bukanlah suatu
perkara yang mudah. Bukan tantangan namanya bila tidak harus bersaing dengan
sejumlah orang yang juga memiliki keinginan sama seperti bapak. Intinya,
perjuangan.
Bagi sebuah
simfoni yang tersusun dari not-not berwarna putih dan juga hitam. Maka
begitulah suatu rumah tangga. Not putih melambangkan kebahagiaan, sedangkan not
hitam melambangkan kesedihan. Tidak ada kejadian yang menyedihkan untuk dapat
menguatkan suatu mahligai rumah tangga. Layaknya seorang pianis yang sangat
legendaris—apabila kita dapat memainkannya dengan penuh perasaan, maka semua
akan dapat terasa merdu dan—indah.
Begitu pula
rumah tangga kedua orang tua saya. Untuk dapat menjalani hingga sejauh ini,
ibarat sebuah kapal yang sedang mengarungi samudra—terpaan ombak dan badai
selalu datang agar dapat mencapai ke tujuan hingga selamat.
Cobaan datang
silih berganti. Mulai dari hal-hal kecil sampai besar. Mulai dari urusan di
rumah, anak sakit dan...semuanya. Sebuah rumah tangga harus saling menguatkan
dalam menghadapi suatu cobaan. Tetapi terkadang Ibu yang mencoba untuk
menguatkan dirinya sendiri untuk anak-anaknya—karena Bapak sedang jauh disana
mengemban tugasnya sebagai seorang prajurit. Bagi seorang abdi negara,
mengemban tugas untuk negeri dan bangsa ini adalah tugas utama—diatas
segala-galanya—bahkan keluarga sekalipun.
Beruntung jika
Bapak ditugaskan baik didalam ataupun diluar negeri yang masih dapat
berkomunikasi. Bapak pernah 3 kali menjalankan tugas sebagai anggota PBB selama
1 tahun. Pada tahun 2003, Bapak ditugaskan di Kuwait. Selang 2 tahun, Bapak
kembali bertugas di Kongo. Pada tahun itu pula, keluarga kami—terutama
Ibu—sedang mengalami kesusahan. Bapak dari Ibu jatuh sakit dan pada tahun itu
juga ibu kehilangan beliau. Dia harus bisa menguatkan dirinya sendiri ketika
orang yang selalu mendampinginya tidak berada disisinya. Kemudian pada tahun
2009, Bapak ditugaskan di Lebanon. Pada saat itu, saya sedang mengalami sakit
yang para dokter belum tahu apa penyebabnya. Saya harus melakukan pengambilan
darah setiap hari untuk mengecek apa yang salah dari dalam diri saya. Melakukan
transfusi darah sebanyak 4 kantong, menjalani CT-Scan dan—operasi. Saya
mendekam diruang inap selama 1 bulan. Dan disaat itu, Ibu benar-benar panik
akan keadaan saya. Seolah sesuatu menggoncang dirinya. Ibu sangat butuh
kekuatan dari Bapak pada saat itu. Tapi Ibu meyakinkan bahwa tanpa Bapak pun,
Ibu dapat menjalani semua ini.
3 tahun adalah
waktu yang terlihat. Bapak lebih banyak ditugaskan di Jakarta sejak tahun 2004an.
Untung saja pada 2012 Bapak bisa setahun bersama kami karena ditempatkan di
Surabaya. Kini, Ibu sendiri lagi—ditinggal bapak yang sedang menempuh
pendidikan di negeri Sakura. Ya, pada ulang tahun pernikahan yang ke 21
ini—mereka merayakan dari tempat yang berjauhan.
Meskipun
sering terpisahkan oleh jarak dan waktu—bukan berarti Bapak mengurangi
keintensifannya untuk memantau kondisi kami semua. Hampir setiap saat Ibu dan
Bapak selalu memberikan kabar dan kondisi masing-masing. Setiap saat, setiap waktu.
Bapak selalu memastikan bahwa keadaan kami baik-baik saja. Bahkan kini hampir
setiap ada kesempatan Bapak meluangkan waktunya untuk ber-skype ria dengan Ibu.
Selalu banyak
kesan dan pesan yang orang-orang dapatkan apabila mendengar cerita mengenai hubungan
mereka berdua. Terlebih disaat waktu 9 tahun Bapak dalam perjuangannya untuk
dapat mendapatkan hati dan meyakinkan Ibu. Semua selalu terkesan dengan cerita
Ibu, terlebih beberapa murid Bapak yang sebagian dari mereka sedang mencari
perjalanan untuk mencari pendamping hidup bagi mereka kelak nanti. Bahkan ada
seseorang yang mengatakan bahwa nantinya ia akan membawa calon istrinya terlebih dahulu agar diberi nasihat oleh Ibu.
Ibu memang
seorang Istri dan Ibu yang pantas untuk menjadi panutan. Tak heran jika
kebanyakan dari mereka ingin memiliki—nantinya seorang Istri dan Ibu yang baik
untuk dia dan anak-anak mereka kelak. Yang selalu dapat memasakkan kami makanan
yang enak. Yang sederhana dan rendah hati. Dan selalu sejuk untuk bersamanya.
Ibu adalah wanita yang selalu mendampingi Bapak dalam suka dan duka—dan yang terpenting—seseorang
dibalik kesuksesan karir Bapak hingga detik ini.
Both of them might not have a beautiful
story just like a Cinderella with her prince charming. They have their own
story. And we can learn so many things from their story. That we should fight
for someone whom we put our faith on. True love isn’t just come easily but you
also have to fight it.
HAPPY 21st ANNIVERSARY IBU-BAPAK