Jumat, 20 September 2013

Ceritaku di Stasiun (Late Story)

Bukan...ini bukan sebuah cerpen. Apalagi cerpen tentang cinta yang menceritakan 2 anak manusia yang menjalin hubungan dan harus terpisahkan dengan jarak yang beribu-ribu kilometer jauhnya.

Ini hanya sebuah cerita, tentang bagaimana saya dapat melihat lebih 'jeli' bahwa kerasnya hidup memang mau tidak mau harus dijalani. Dan seberat apapun itu kita harus ikhlas dan tawakal kepada Allah.

Sebelumnya saya menghabiskan waktu di Magelang--kota yang penuh cerita (itu kata mereka--para pengabdi bangsa yang ditempa disana) selama 2 hari 1 malam. Saya dan kedua orang tua saya mengikuti acara reuni akbar 25th yang rutin digelar di kota tersebut. Pada malam kedua, kami memutuskan untuk langsung kembali ke Jakarta karena satu dan lain hal.

Malam itu, pengemudi kami mengantarkan ke stasiun Tugu, Jogjakarta. Barang bawaan kami cukup banyak. Belum ditambah lagi dengan bantal kesayangan saya--moo yang sedikit menjadikan keadaan agak riweuh. Maka kami memanggil satu kuli panggul untuk membantu membawa barang bawaan kami. Ya, disinilah saya mulai menyadari bahwa--ada sesuatu yang berdesir di hati saya.

Saya tidak tahu, apa mungkin...selama ini saya terlalu banyak melihat kehidupan kota Surabaya dengan sisi kacamata duniawi? Padahal...keringat yang berpeluh-peluh, jerit dan tangisan...semua itu juga saya saksikan dan rasakan di kota pahlawan. Tetapi...mungkin semua itu tertutup dengan kehidupan yang penuh gelak tawa serta langkah kaki yang membawa tas-tas belanjaan, caci-maki atas pekerjaan yang tidak beres, gerutu dan keluh kesah pelajar akan tugas yang menumpuk--walaupun sebenarnya, masih ada sebagian kecil dari penduduk kota yang mampu mengucap syukur kepada Allah sekalipun jalan yang ditempuhnya begitu berat dan hidup dalam segala keterbatasan.

Kembali ke awal. Tidak berhenti disitu. Setelah masuk peron, pemandangan yang kembali miris datang silih berganti. Dimulai dengan seorang ibu yang menjajakan oleh-oleh khas jogja, bapak yang menjual kacamata hingga nenek yang masih kuat berjualan nasi bungkus di kala usia senjanya. Padahal saat itu, kami akan menaiki kereta terakhir yaitu pukul 11 malam. Bukan hanya itu, saya juga tertegun melihat berapa pasang mata yang masih membuka matanya di waktu istirahat seperti ini untuk menafkahi keluarga mereka. Ya, mereka berjuang semata-mata hanya agar dapat menghidupi, memberi makan, menyekolahkan anak-anak mereka. Baginya, kesenangan yang tak ternilai adalah ketika mendapat penghasilan yang lebih di hari itu.

Melalui kereta, mereka bercerita. Lewat kereta, mata, hati serta pikiran ini mulai kembali terbuka. Esok paginya, dari jendela kereta saya mulai kembali meraba-raba tentang mereka. Ya, sesaat sebelum sampai Jakarta pemandangan yang membuat saya berdesir tidak datang hanya cukup sekali saja. Ia datang terus-menerus di sepanjang perjalan. Pemukiman kumuh yang sungguh sebenarnya tidaklah kondusif bagi kesehatan. Belum ditambah dengan adanya tumpukan sampah yang menggunung dirumah mereka. Miris rasanya. Kemudian juga ada seorang anak kecil yang bertubuh mungil sedang membantu ibunya. Keadaan seperti ini, mungkin sudah jarang ditemukan di kota-kota besar.

Ketika melewati stasiun-stasiun kecil seperti Manggarai dsb, saya juga melihat bagaiman riuhnya stasiun yang pagi itu mulai dijubeli oleh manusia-manusia. Raut muka mereka...memang tidak semua menandakan rasa iba. Tetapi...disetiap garis wajahnya, disetiap langkah kakinya, mereka memliki keyakinan akan secercah harapan yang mungkin suatu saat akan datang dari Sang Ilahi dan merubah hidupnya--untuk keluarganya.

Saya pikir, setiap tempat selalu memiliki cerita. Tetapi bagi saya, stasiun dan kereta memiliki makna yang berbeda. Karena mereka mampu memberikan suatu cerita bagi kita--yang berada didalamnya, untuk kembali merenungi kehidupan ini. Mereka memang tidak menceritakannya secara lugas, namun dengan tersiratnya pemandangan-pemandangan--yang sebenarnya para masinis tidak menyengajakannya--justru mampu menggoyahkan hati kita dan mungkin...akan menitikan air mata iba.

Kita terkadang masih memiliki rasa iri ataupun dengki dengan orang-orang disekitar kita. Ya, persaingan. Di era industri seperti ini, persaingan ada untuk membuktikan siapa yang lebih baik. Keluh kesah adalah kalimat yang sudah jamak diucapkan maupun didengarkan. Kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan hanya mengejar materi. Padahal diluar sana, banyak saudara-saudara kita yang masih hidup terbelenggu dalam 'kejamnya' dunia. Sedikit pun kita terkadang lupa dengan mereka. Berpapasan pun, yang ada mungkin hanyalah sebuah tatapan dari mata yang dipicingkan.

Dan akhirnya saya menyadari, mungkin ini memang jalan Allah untuk mengingatkan setiap umatNya agar selalu bersyukur atas limpahan rahmat dan nikmatNya. Sebagai manusia yang hidup yang penuh dengan persaingan baiknya kita selalu...
Melihat keatas untuk memotivasi, dan melihat kebawah untuk bersyukur
Dan juga...ingat DUIT! Doa, usaha, ikhlas dan tawakal. Karena segala sesuatu yang dilandasi dengan ikhlas, seberat dan sekeras apapun akan terasa ringan dan menyenangkan. Tanpa kerja keras, doa saja pun tak cukup. Tanpa doa, kerja keras pun juga tak cukup. Seperti firman Allah SWT:
"...إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ..."
Artinya: "...Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..."  QS. Ar-Ra'd (11)

See you in next post :-) 

Rabu, 31 Juli 2013

Social Media and Transparency

Well, um sebenernya kenapa saya nuiat banget untuk ngebahas ini tuh karena saya beberapa bulan terakhir memang sering mengamati kasus ini.

Kita emang nggak bisa memungkiri dengan semakin berkembangnya zaman terutama di zaman globalisasi seperti ini, mau tidak mau kita dituntut untuk selalu mengikuti perubahan-perubahan yang ada. Nah, salah satunya adalah sosial media. Sebenernya sih tujuan awal sosial media itu bagus lo. Untung memudahkan kita berkomunikasi dengan perbedaan jarak dan waktu. Kita juga bisa sharing dengan teman kita yang mungkin berasal dari kota atau negara lain.

Macam dari sosial media itu banyakkk banget. Semuanya itu tujuan utamanya adalah memudahkan dan saling berbagi. Saya rasa seperti itu. Mulai dari yang awalnya friendster kemudian berlanjut dengan facebook, twitter, plurk, formspring, foursquare, tumblr, path. Media chatting mulai dari yahoo messenger, skype, whatsapp, line, wechat, kakaotalk dsb. Dan juga yang terakhir, instagram. Jujur aja sih ya, dari semua sosial media yang sudah saya sebutin diatas, saya punya 10 termasuk dengan blog ini loh! Hahahaha... (If you want to be one of my social media's friend, just ask me personally (-;) Biasalah, harap dimaklumi...namanya juga anak muda. Sebenernya saya bikin whatsapp dan line karena saya kadang ketinggalan berita kalo cuma ngandelin bbm (red.blackberry messenger) yah, sebagai pelajar saya cuma nge-aktifin disaat hari sabtu-minggu aja :D

Dengan punya sosial media yang sebajek seperti itu, saya udah deh cukup nggak mau nambah-nambah lagi. Memang ya, sosial media itu tergantung dengan bagaimana cara kita untuk menggunakan sosial media tersebut. Nggak sedikit orang yang bilang bahwasanya sosial media itu lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Tapi ya nggak juga. Buktinya saya ketika masuk di bangku SMA, sudah ada beberapa teman yang saya sudah tau sebelumnya melalui sosial media. Hehehehehe...

Tapi entah kenapa ya...menurut pandangan saya kok sekarang sosial media malah berubah fungsi. Ya nggak sepenuhnya juga sih. Somehow, beberapa orang menggunakan sosial media untung ajang show off atau pamer. Saya bukannya mau nge-judge siapapun. Suer! Karena menurut saya, memang ada benarnya juga. Terkadang disadari atau tidak kita menunjukkan sesuatu atau privasi kita ke masyarakat umum.

Yang paling gampang untuk kita jadikan tempat pembuktian itu ya instagram. Sedikit banyak emang kita 'setengah' pamer. Tapi kan ya ada porsinya masing-masing. Bukan berarti saya melarang kalo misalnya ada sebagian orang yang memang sepenuhnya ingin kehidupannya diketahui oleh masyarakat luas. Fine-fine aja sih. Cumanya lagi yaaa...kadang yang jatuhnya malah jadi ilfeel itu kalo udah masang foto sama pacar berdua (yaiyalah, masa sekampung-_-) terus posenya muesra-muesra gitu. Ok, you may say I'm jealous. Buttt, hey guysss...don't you realize something can change in a second. Got my point? I don't know why nowadays people seems like trying to compete each other to show off by using social media.

Dan yang lucu lagi kalo udah curhat di sosial media. Wuaduuuh, that's the mainstream thing to do dear :-) People in the out there will know your problem even if they don't know what actually happen with you. Anddd, let me give an advice...if you have a problem about a romance (that's the most teen's problem); like fight, broke up, friendzone, he doesn't care or sensitive or anything else...I hope you don't write down your problem in the social media. Dear, don't you understand? Someone out there whom maybe get an interested with you will maybe take a few time to think twice he'll get close to you or not. So don't wasted your tears. Life must go on, go ahead! Just keep thinking positive if Allah will give you someone better :-)

Theeen, about the unemployment. Uh, is there any right word to tell a person who don't have any activities except spending their whole life just to sit and talk about 'them'. Well, let me tell you who is 'them'. Okay, first you should know if many girls, women in the out there reallyreally interested with 'man-with-brown-uniform'. For this part I'll consciously tell you with english (ps: sorry for the bad grammar). Did you ever heard about 'gitar'? Gitar isn't a guitar in Indonesian. But, that's the way we called girls who crazy with 'man-with-brown-uniform'. I think they're reallyreally crazy. They make a relationship from this one and then the sr or maybe on the next month with the jr. Anddd, they just like a reporter I think-_- they always give a live report about her 'boyfriend'. Don't you knowww, if you will getting married with them...his first duty is for this nation, to keep away from the enemies. And his life maybe taken away at anytime. Am I right? Uh...and theeennn...you just his 'sisun'. Why can you so sure if you'll be his wife to stand beside him until the day of separation. I bet you've already known too about their role game... Nanana... And youuu, post of every single pic that you took with your boyfriend... It's okay, but when it's too much don't you feel lil bit like 'um, this is weird-_-' haha... No one will give a guarantee to you if you'll be his wife and also you boyfie's carrier. We must build this up with carefully.

So, the conclusion is... Now we live in a world that can know people's story from social media. Because many people say bye-bye to privacy and choose to tell their problem in social media. Somehow they just write everything that comes and pop up in their mind without think twice.

Rabu, 17 Juli 2013

Viva La Sociale~

Hoaaammm...
Akhirnya, setelah tiga minggu terlelap tenggelam dalam lautan liburan saya terbangun juga! Hahahahaha :)) (halah-_-) I just can't believe if tomorrow I'll have juniors! Wohoooo *tiupterompet* *nyumetpetasan* (oke ini alay, hentikan) Sebenernya sih bukan karena besok saya sudah jadi kakak kelas *ehem* *benerin dasi* tapitapitapi...kok rasanya satu tahun itu cuepeeettt banget ya. Hehehehehe. Ya gini ini manusia, dulu pengen cepet-cepet berlalu tapi begitu udah dikasih kok rasanya cepet. Semacam gak nyangka gitu ya hehehehehe. Yang saya pengen sih bukan karena mau ina ini itu...nggaaak, bukannn :') saya cuma bahagia aja akhirnya saya sekarang terlepas dari mapel IPA. Yayyy! It's gonna be good yay yay yay~ As I told before, saya emang dari awal niatnya udah kekeuh buat masuk IPS. Dengan segala macam tetek bengek yang sudah saya pikirkan sebelumnya. Salah satunya ya resiko yang didapat. Dari dulu kan yang namanya anak IPS gak punya kesempatan untuk mengambil jurusan IPA pada saat kuliah, tapi tidak dengan sebaliknya. Ya ditatakin ajadeh. Semoga apa yang sudah saya pilih dapat menjadikan saya lebih sukses dikedepannya (amiiin)

Nah, kalo yang namanya kelas IPS tuh kan pasti udah bawaannya orang underestimate aja. Daridulu image anak sosial emang anak buangan. Anak-anak yang nggak bisa masuk ke kelas sains. Buat saya, entah sains atau sosial sama bagusnya kok. Keduanya membutuhkan pemikiran yang luas juga. Sama-sama berat. Di sosial kita nggak cuma menghapal kan? Ekonomi, ada saat kita harus berhitung. Contoh, menghitung GDP, fungsi konsumsi&tabungan dll. Di geografi juga ada berhitungnya. Okelah, mungkin dalam hal berhitung anak sains jauh lebih jago daripada kita yang anak sosial. Tapiii yaaa...walaupun kita anak sosial, entah itu masuk karena keinginan sendiri atau terbuang atau gimana. Kita harus tetep tunjukkin kalo kita juga bisa sama atau bahkan lebih berprestasi dari anak sains. Saya sih dapet wejangan dari kakak saya (murid bapak yang sudah kaya kakak sendiri) berbagai macam hal. Termasuk salah satunya bagaimana saya bukan hanya bisa survive tetapi juga berprestasi walaupun anak sosial. Dulu sih dia udah saranin saya untuk masuk sains terus baru kuliahnya ambil sosial. Karena, dulu sebelum dia jadi kadet dia mantan anak fak.hukum undip.

Sekalian tips nih untuk anak-anak sosial biar kita bisa sama-sama sukses :D Intinya kakak bilang, dengan anak sosial yang sudah punya image buruk...kita harus merubah image itu.
> Salah satu caranya adalah aktif. Aktif dalam organisasi, ekstrakulikuler maupun ajang perlombaan. Organisasi dapat membuat kita lebih tanggap dan mudah memahami apa yang ada disekitar kita. Ekstrakulikuler, jangan salah...jika kita sungguh-sungguh dan tekun yang mulanya hanya sebuah hobi bisa menjadikan kita berprestasi. Perlombaan, kalo yang ini sih pasti...ikutin ajadeh lomba-lomba apapun. Kalah menang urusan terakhir. Yang penting punya pengalaman...biar ada ceritanya, hehehe. Lagian, kalo kita punya banyak sertifikat...minimal bisa dijadikan nilai plus bagi universitas yang akan menerima siswa dari jalur undangan (red.SNMPTN)
> Kemudian...kita harus menambah wawasan kita. Sering membaca buku! Mengikuti perkembangan baik di lingkup nasional ataupun iternasional. Minimal ngikutin deh, biar waktu ada orang ngajak ngobrol kita bisa nyambung. Apalagi kalo yang ngajak diskusi gebetan kita...waaah, si doi pasti kan seneng banget ngliat kita ternyata smart...walaupun anak sosial ;) hehehehehe :p
> Terusss...kita sebagai anak sosial harus bisa mengerti, membaur dengan keadaan sekitar. Dapat memahami kondisi seseorang. Atau dapat menganalisis suatu permasalahan dengan pendekatan antara satu sama lain untuk mengetahui kira-kira apa penyebab orang tersebut melakukan suat masalah itu tadi. Halah ribet ya. Hahahahaha. Gitudeh... Kata kakak, kita harus bisa belajar menjadi seorang pendengar yang baik. Minimal kita dengerin curhatan temen, syukur-syukur kalo bisa ngasih solusi yang pas buat dia. Kalo sudah gitu, orang jadi mempercayakan kita. Dan senang juga karena turut bisa membantu menyelesaikan masalah teman :D

Itu aja sih...next post I'll write about my 3weeks of holiday. Semoga yang diatas bisa bermanfaat ya. Hehehe... VIVA LA SOCIALE~ :D

Kamis, 27 Juni 2013

Yang Dicintai adalah Yang Mencintai

re-post



Ya Allah...
Saat aku menyukai seorang teman
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir

Ya Allah...
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati-Mu
Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi

Ya Allah...
Jika aku mesti mencintai seseorang
Temukanlah aku dengan orang yang mencintai-Mu
Agar bertambah kuat cintaku pada-Mu

Ya Allah...
Ketika aku sedang jatuh cinta
Jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu

Ya Allah...
Ketika aku berucap ‘Aku cinta padamu’
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada-Mu
Agar aku tak jatuh cinta dalam cinta yang bukan karena-Mu

Sebagaimana orang bijak berucap...
Mencintai seseorang bukanlah apa-apa
Dicintai seseorang adalah sesuatu
Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah berarti
 Tapi dicintai oleh Sang Pencinta adalah segalanya

Rabu, 19 Juni 2013

Sebuah Renungan: Siklus Hidup Manusia

re-post

Tuhan menciptakan Keledai dan berkata : "Kamu akan bekerja tanpa lelah sejak matahari terbit, memikul beban berat dipundakmu, kamu tidak mempunyai akal dan kamu akan hidup selama 50 tahun". Keledai menjawab : "Saya bersedia menjadi keledai, tetapi hidup selama 50 tahun terlalu lama. berikan hanya 20 tahun" dan Tuhan memberinya hidup 20 tahun.

Lalu Tuhan menciptakan Anjing dan berkata : "Kamu akan menjaga rumah, menjadi sahabat terbaik manusia dan memakan apa saja yang mereka berikan dan kamu akan hidup selama 25 tahun". Anjing menjawab : "Tuhan, hidup 25 tahun terlalu lama, berikan hanya 10 tahun”. dan Tuhan memberinya hidup selama 10 tahun.

Tuhan kemudian menciptakan Monyet dan berkata : "Kamu akan hinggap dari pohon ke pohon. Kamu akan melakukan hal-hal yang bodoh, kamu akan menjadi penghibur dan kamu akan hidup selama 20 tahun". Monyet menjawab : "Tuhan, 20 tahun terlalu lama. berikan hanya 10 tahun". dan Tuhan-pun setuju.

Akhirnya, Tuhan menciptakan MANUSIA dan berkata : "Kamu akan menjadi manusia, satu-satunya mahkluk yang paling rasional di bumi, kamu akan mengunakan kepandaianmu untuk mengatur mahluk lainnya, kamu akan mendominasi dunia dan akan hidup selama 20 tahun". Manusia menjawab : “Tuhan, Saya akan menjadi manusia, tetapi 20 tahun terlalu singkat. Bagaimana kalau kau berikan aku 30 tahun yang ditolak keledai, 15 tahun yang ditolak anjing dan 10 tahun yang monyet kembalikan ?". Dan itulah yang Tuhan berikan.

Sejak saat itu, Manusia hidup selama 20 tahun sebagai Manusia lalu memasuki masa dewasa dan menghabiskan 30 tahun seperti Keledai, bekerja dan memikul beban berat dipundak, dan ketika anak-anak meninggalkan rumah, menjalani 15 tahun kemudian seperti anjing, menjaga rumah dan memakan apa saja yang diberikan dan kemudian memasuki masa pensiun, manusia menjalani 10 tahun sebagai monyet. hinggap dari rumah anak yang satu ke anak yang lain,rela melakukan hal-hal bodoh untuk menghibur para cucu...