Tidak terasa satu bulan telah berlalu setelah kepulangan kami sekeluarga dari tanah suci. Senang sekali rasanya dapat berkunjung ke rumah Allah yang selalu ramai diperbincangkan oleh banyak orang, semua masih terasa seperti mimpi! Didalam kerinduan yang kini tengah menggelayuti, bersamaan dengan alunan suara dari masjid, izinkan dan perkenankanlah aku untuk berbagi cerita sekaligus mengenang perjalanan kami di tanah suci.
Kami mengijakkan kaki pertama kali di Madinah pada sekitar pukul 10 malam. Baru saja selesai melewati imigrasi, setelah membuka tumpukan pesan di sosial media aku harus berurusan dengan nilai. Duh, sungguh membuatku khawatir, mengapa ketika aku telah nun jauh dari file tumpukan tugas ujian akhir aku masih harus memikirkan nilaiku yang kosong. Padahal tugas ujian akhir tersebut telah kukumpulkan pada saat jatuh temponya, tidak terlambat barang sedetik pun. Ah, sungguh dinyana, belum juga sehari kenapa sudah ada saja persoalan yang menghampiri. Hingga lupa oleh waktu, pada malam itu juga aku yang mudah terserang gupuh, seketika menghubungi dosen yang bersangkutan,.Meski aku tahu bahwa waktu di tanah air masih tepat untuk beristirahat. Untung bukan diuntung, aku masih memiliki berkas file tersebut ketika mengirim ke seorang teman.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kami pun tiba di hotel sekitar pukul 2 dini hari. Setelah berbenah sebentar, pada pukul 3 kami mulai berjalan untuk ke Masjid Nabawi. Diterpa angin sedingin apapun rasanya tidak terasa, yang ada hanya senyum terpulas di wajah melihat begitu indahnya Nabawi di tengah malam begini.
Sehari-hari, bila mampu, aku lebih memilih untuk menunaikan sholat 5 waktu di masjid ketimbang di hotel. Ya, bila mampu. Karena pada suatu waktu badan ini terasa begitu pegal karena efek dua hari setelah kedatangan aku sama sekali belum merebahkan badan ke pulau kapuk. Selain karena dihari pertama 5 kali bolak-balik hotel dan masjid dan siangnya mengunjungi beberapa tempat, kemudian malam harinya disusul dengan kami mengunjungi Raudhah, mimbar yang digunakan Rasul SAW untuk berkhutbah, dan baru selesai hingga pukul 1 pagi. Alhasil, punggungku sakit luar biasa. Dibuat jalan seolah tak mampu. Aku seperti membutuhkan penyangga yang memampukanku berjalan dengan kondisi punggung seperti ini. Siangnya aku sudah sedikit enakan usai Ibu memijatku (yang hingga buatku meringis bahkan menangis kesakitan).
Namun, itulah yang dinamakan cultur shock. Aku belum terbiasa berjalan 5 kali dalam sehari untuk bolak-balik hotel ke masjid. Di tanah air pun, aku lebih banyak menunaikan ibadahku di rumah. Setelah hari kedua, ketiga, keempat aku sudah mulai terbiasa dengan ritme waktu sholat dan perjalanan 5 kali sehari itu. Meski terkadang lelah, tetapi kenikmatan ketika telah berada di Nabawi terbayarkan sudah. Entahlah, tapi selalu muncul perasaan nyaman setiap kali aku menunaikan sholat di Nabawi. Seolah ada energi positif yang menyentuh batinku. Sehingga, berada di Nabawi adalah juga sekaligus sebagai ajang untuk berkontemplasi.
Waktu subuh adalah bagian terfavorit ketika berada di Madinah. Subuhku tidak pernah seindah saat berada di Nabawi. Dingin yang berusaha menembus tiap lapisan kulit, yang meski telah tertutup oleh berlapis-lapis pakaian, bukan lagi sebuah perkara. Setiap selesai menuntaskan sholat subuh, aku keluar dari Nabawi dengan senyum sumringah melihat hasil karya Allah. Ia melukiskan langit pagi yang indah di bumi angkasa Madinah. Lukisan itu begitu indah, ia terdiri dari semburat jingga dan gelap malam yang masih tersisa. Sebuah pagi terindah yang barangkali baru pertama kali ini aku temukan di belahan bumi ini.
Di Makkah, terkhususkan saat di Masjidil Haram, energi yang kurasakan berbeda dengan saat di Nabawi. Jika di Nabawi aku menemukan perasaan damai dan sejuk, maka di Masjidil Haram seolah rasanya aku ingin runtuh. Ya, ingin runtuh, karena aku tak kuasa. Aku yang begini, sebagai makhluk Allah yang masih banyak dilumuri dosa-dosa, malu rasanya ketika bersimpuh di rumahNya. Ingin aku memohon untuk dilepaskan dari segala keburukan yang mampu menghalangi jalanku untuk tetap lurus berada dalam koridorNya.
Saat mengelilingi sebuah kubus yang diselimuti kiswah berwarna hitam dengan hiasan lafal Qur'an berwarna emas, aku terpaku. Benda yang selama ini hanya bisa kusaksikan dari dunia maya kini berada persis didepan mataku. Menangis pun aku tak bisa, apalagi untuk berbicara, tersenyum bahkan tertawa, aku seolah sudah mati rasa. Sebagai seorang makhluk ciptaanNya, aku merasa begitu kecil berada dalam lautan manusia yang sedemikian rupa. Aku takjub melihat bagaimana manusia dari seluruh dunia yang berhiaskan perbedaan dipertemukan disini dengan saudara sesama muslim dan bagaimana mereka senantiasa mengingat, memohon ampun serta memanjatkan doa kepada Allah.
Ketika memiliki kesempatan untuk menyentuh Ka'bah seolah ada daya magis yang membuatku runtuh untuk kesekian kali. Sudah kaki ini runtuh, kali ini yang terserang adalah air mata. Tidak terasa air mata ini terus berlinangan memohon ampun ketika menyentuh rumahNya. Masih diberikan nafas dan kesehatan di setiap detik olehNya adalah sebuah karunia luar biasa yang sudah sepatutnya untuk disyukuri, terlebih kenikmatan dan rezeki lain yang sudah diberi. Sungguh tak pantas aku sebagai manusia jika masih ingin egois dalam perkara duniawi, ketika kita sendiri sesungguhnya sama di mata Allah. Pun, saat kita kembali nanti yang membedakan kami hanyalah sebuah ketaqwaan, bukan harta emas berlian ataupun uang yang bergelimangan.
Doa yang kupanjatkan pun tak lebih dari sederhana selain hanya untuk memohon agar sekeluarga senantiasa diberikan kesehatan dan berada dalam perlindungan. Doa printil-printilan urusan pribadi juga tidak terlewatkan, mengingat masih banyak yang harus aku tuntaskan sebagai manusia. Karena seperti yang disampaikan Buya Hamka, jika hanya sekedar hidup dan kerja maka binatang pun bisa. Namun aku manusia, yang sejatinya diciptakan dengan pemberian akal pikiran, dan karenanya setidak-tidaknya seperti sebuah hadist, aku dapat memberikan manfaat kepada orang lain.
Dalam gelungan subuh yang sejuk nan mesra aku kembali berdoa, agar dapat diberikan lagi kesempatan untuk berkunjung ke rumahNya. Sekiranya aku akan kembali tidak sendiri, tidak pula bersama orang-orang yang di tahun ini telah menemani. Semoga, aku akan kembali dengan keluarga kecil dan Imam baruku nanti. Aamiin...
damai pagi di Nabawi yang selalu kurindukan
Selamat hari Jum'at, jangan lupa awali hari dengan senyum dan doa. See you on next post ^^
