Aku pikir aku tidak cukup lihai dalam mengontrol diri. Sudah dua hari ini aku hilang kendali karena tak tahu harus berbuat apa lagi.
Pada suatu pagi di sebuah jalan yang sepi aku tengah sendiri. Di ujung gang aku berdiri seolah memberi pertanda ada seseorang yang sedang kunanti. Lalu munculah seorang lelaki datang menghampiri. Mulanya hanya bertegur sapa dan sekedar basa basi. Lambat laun aku mulai ia kunjungi dengan frekuensi yang cukup lumayan tinggi, setiap hari. Dari pagi hingga menuju pagi lagi kita saling bertukar informasi, karena selalu ada cerita yang bisa kita bagi. Terlalu asyik menyelami dirinya yang--menurutku--menarik, sampai buat bibir ini tak sadarkan diri melengkung seindah pelangi dengan raut muka secerah matahari.
Kemudian di suatu senja aku mulai tersadar jika sorot matanya sudah berbeda. Intonasinya kembali sedia kala seperti ketika awal pertama kali kita berjumpa. Dan di detik itulah semesta seolah berkata bahwa kemarin dia hanya bertandang saja. Tak ada sekalipun, meski hanya sekejap, rasa tersimpan yang membuat perutnya menggelitik manja. Iya...aku dan dia hanya sementara. Ups maaf, sepertinya aku salah memilih kata. Harusnya aku memilih diksi teman bercerita lantaran memang sesungguhnya tidak ada apa-apa diantara kita. Pada intinya, kita...teman biasa. (Meski beberapa kawan buru-buru berprasangka dibalik perilaku kita berdua. Karena nonverbal tidak bisa menipu, ujar mereka.)
Aku tak mengapa, tak ada sedikitpun goresan luka. Sebaliknya, semua ini yang kusadari hanyalah fana, telah sukses besar mengundang gelak tawa. Bila menangis, memangnya ada apa? Dan bila marah, memangnya aku siapa? Maka kuputuskan dengan mantap cara paling tepat untuk bersikap dibalik kefanaan ini adalah dengan tertawa. Yaaa...hitung-hitung senam muka yang dapat buatku tampak semakin awet muda.
Untungnya, aku dan dia sudah cukup dewasa untuk menghadapi sebuah realita. Entah ia berpura-pura ataukah tidak, yang terpenting disaat kita bertatap muka semuanya mengalir biasa begitu saja seperti dulu kala. Kita tidak enggan bertukar sapa, meski sebenarnya aku telah kehilangan muka di hadapannya. Tidak ada lagi bertukar kabar dan pandangan mata yang saling menghindar.
Sekali lagi izinkan aku mengucapkan banyak maaf bila telah sering mengintervensi dan buat waktumu merugi. Terakhir, terimakasih karena telah sudi untuk mampir.