"Eeeh dengerin aku dong, jangan sibuk sama hp mulu" *goyang2in tangan lawan bicara* *pasang muka cemberut*
Sering
nggak sih kita denger kalimat seperti diatas? Biasanya kalimat tersebut
terlontar saat kita sedang asyik berbicara ternyata lawan bicara kita
tidak memperhatikan kita. Banyak sih faktor yang membuat lawan bicara
jadi nggak fokus dengan apa yang sedang kita bicarakan. Misal, karena
kondisi sekitar yang ramai, lawan bicara sedang melamun atau...mereka
justru fokus pada gadget mereka. Bete kan? Nah ini nih yang sekarang sering terjadi di kehidupan kita.
Sekitar
tiga bulan yang lalu, yaitu tepatnya tanggal 20 Oktober 2015 saya
mengikuti UTS pertama saya sebagai mahasiswa. Hari itu saya akan ujian
Pengantar Ilmu Komunikasi (PIK) secara lisan. Dag dig dug belalang
kuncup sih sudah pasti. Seminggu saya belajar mati-matian untuk memahami
setiap deretan huruf di kitab mahasiswa ilkom yaitu Komunikasi: Suatu
Pengantar milik pak Deddy Mulyana. Saya menghafal seabrek soal
beserta jawaban (dari materi di buku) yang mungkin akan saya dapat. Dan
ternyata ketika ujian, nomor undian yang saya ambil berisikan sebuah
pertanyaan logika. Dialog antara saya dengan penguji jujur masih terasa
membekas, kira-kira seperti ini, P: Penguji; S: Saya :
P: 'apa yang dimaksud dengan keterampilan berkomunikasi?'
S:
'terampil berkomunikasi adalah bla3x (jelasin tentang bicara tahu
konteks ruang waktu, siapa lawan bicara, dan menyampaikan pesan dengan
cara yang tepat)'
P: 'udah itu aja?'
S: *mikir keras* 'ah ya Mba, mendengarkan! Mendengarkan itu juga gak kalah penting bla3x'
P: 'oh gitu...terus menurutmu, apa kamu sudah terampil dalam berkomunikasi?'
S: *tertegun* *nelan ludah* *dalam hati tanya: 'iya ya, udah belum sih aku terampil berkomunikasi? seperti jawabanku tadi...'
setelah
beberapa detik terdiam akhirnya saya menjawab 'belum Mba, karena saya
masih banyak berbicara daripada mendengar orang lain'
Ya
kurang lebihnya begitulah... Saat keluar dari ruang ujian senang karena
saya dapat pertanyaan logika dan bukan hafalan. Tapi...jawaban atas
pertanyaan tersebut menjadi hal yang sampai saat ini masih saya
pikirkan. Jawaban saya yang mengatakan bahwa terampil berkomunikasi
adalah mengenai berbicara dan mendengar, membuat saya terus
mengintropeksi diri. Terlebih saat saya mengatakan bahwa saya masih lebih
banyak berbicara daripada mendengar. Lalu munculah pertanyaan dalam
hati saya, sudahkah saya berbicara dengan tepat? Sudahkah saya mendengar
apa kata orang lain? Karena keresahan itulah saya menulis ini. Dengan
harapan kita dapat menjadi pendengar yang lebih baik.
Siapa
sih manusia di dunia ini yang tidak ingin didengar? Secara pribadi saya
yakin bahwa setiap manusia ingin setiap kata yang ia ucap didengarkan
oleh lawan bicara? Kenapa sih manusia ingin didengar? Karena simpel aja,
manusia ingin apa yang ia pikir dan rasakan dapat dipahami oleh orang
lain. Ya, sesimpel itu.
Tapi sadly to say...sering
terjadi saat kita berbicara lawan bicara tidak memperhatikannya. Hingga
kita perlu mengulangi kembali pesan yang telah disampaikan. Seperti
yang telah ditulis diatas, salah satu faktor penyebab adalah gadget. Yap...a little thing that help your life much but create a new problem also.
Gadget
is like a coin who have two sides, the good and bad ones. Gadget and
internet really a delicious and legit combination in this 20s era. They
give anything you want to know. They can even help you, like help to
finish your task (don't denied it, because I also did). And... you can
find happiness from your gadget. Online music player, games, social
media etc. Ain't that interesting uh? But in the other side, I believe
that most of you probably will spend your time with gadget (esp if you
have large quota to access an internet) 
Have you ever
realized if you always on your gadget, it'll bring a bad effect...not
only for you, but also people around you. When you don't put your
attention while communicating with others, they might mad at you. Don't
get mad at them back because that's your fault not to listen them
carefully. Well to make it easier, let's change your position as you
were them.
Mengutip quote ala ala tumblr,
Quote
tersebut menarik untuk diterapkan pada saat kita berkomunikasi. Karena
saya senang untuk didengarkan, maka sejak UTS kemarin saya punya satu mindset
baru yaitu, 'saya harus juga menjadi pendengar yang baik bagi lawan
bicara saya. Siapapun itu. Dan apapun yang ingin mereka bicarakan dengan
saya'.
Saya adalah tipikel orang yang suka banget cerita tentang banyak hal. Bercerita tentang pemikiran, pengalaman, harapan, dan perasaan. Karena itu saya juga senang untuk didengarkan (
Ketika
berkomunikasi, kita harus mendengarkan dengan seksama apa yang lawan
bicara katakan. Bukan hanya sekedar mendengarkan, tetapi juga memahami. This is what we called, listening and not hearing.
Seseorang dapat dikatakan memahami lawan bicara ketika ia mampu
memberikan respon, baik secara verbal maupun nonverbal. Respon positif
dapat berupa kalimat persetujuan, nasihat, anggukan, senyuman dll. Tidak
selalu respon yang positif, karena memang ada kalanya seseorang
memberikan respon negatif. Contoh respon negatif adalah saat murid SMA
diberi tugas matematika satu bab oleh gurunya dan harus dikumpulkan
besok pagi.
Bagaimana cara agar kita dapat mendengarkan sekaligus memahami lawan bicara? Here's some advice that I can give to you,
- Pertama tentu pusatkan perhatian, sebisa mungkin tidak tepengaruh oleh segala bentuk noise yang akan muncul. Seperti keramaian lingkungan dan notifikasi di gadget.
- Kedua, saat kita memperhatikan lawan bicara...lakukan eye contact. Bener deh ini...eye contact itu penting. It'll make people being respected by you. Tapi tetep juga harus tau konteks waktu dan ruangnya. Saat berbicara dengan gebetan, dengan leluasa kita bisa memberikan tatapan genit, tetapi tidak pada guru atau dosen. Jangan sampai kita memberikan tatapan nantang saat lawan bicara kita adalah seseorang yang lebih tua. Atau tatapan yang dapat menimbulkan penafsiran negatif tentang kita. Berikan tatapan yang dapat membuat lawan bicara kita merasa dihargai. Gimana ya caranya? Hm, tanamkan dulu dari dalam hati kita kalau kita menghargai mereka. Maka tatapan 'menghargai' itu akan berjalan dengan sendirinya :)
- Ketiga...letakkan gadget, sebisa mungkin jauhkan dari pandangan kita. Sebagian orang berkata bahwa ketika ia memegang gadget ia tetap dapat memperhatikan lawan bicaranya. Ya...bisa dikatakan benar ketika orang tersebut mampu fokus terhadap dua hal secara bersamaan. Tetapi meskipun gitu...beda lo rasanya didengarkan oleh seseorang yang sedang memegang gadget dengan yang tidak. Entah kenapa, karena saya pribadi suka bete kalau ketika saya berbicara dan lawan bicara justru asyik dengan gadget.
- Keempat, jangan menyela. Berikan waktu untuk mereka berbicara. Saat mereka sedang berbicara kita dapat memberikan respon nonverbal yang dapat menujukkan ke mereka bahwa kita menyimak apa yang tengah ia sampaikan. Oya...ketika seseorang bercerita, tidak semua orang ingin mendapatkan masukan. Terkadang seseorang bercerita hanya karena mereka ingin didengar. Jadi, biasanya ketika ingin memberikan tanggapan berupa masukan saya tanya dulu ke mereka...boleh dikasih masukan atau nggak. Kalau kita langsung nyerocos memberikan masukan, belum tentu juga mereka suka karena mereka akan merasa digurui.
Hm...sepertinya
terlalu ideal sekali ya. Saya sendiri pun kadang belum benar-benar
menerapkannya. Tetapi saya akan selalu berusaha untuk
menjadi pendengar yang baik seperti pada keempat poin tersebut. 24 jam (((kecuali kalau saya sudah tidur lain ceritanya wkwk))) akan selalu terbuka untuk siapapun bagi yang mau bercerita, insyaAllah saya akan dengan setia mendengarkan :)
Kalo ada apa-apa cerita ya. Sama siapa aja terserah. Nggak mesti harus cerita sama aku. Pokoknya cerita sama orang yang kamu percaya
Kalimat itu
adalah satu hal yang selalu saya ingatkan kepada semua teman. Menurut
saya seseorang tidak mungkin menanggung beban perasaannya sendiri.
Kalaupun bisa pasti akan ada batasnya. Kita tidak pernah tahu kapan kita
mencapai batas itu. Dan kita juga tidak tahu hal-hal apa yang akan
terjadi jika telah berada dalam ambang batas. Sesuatu yang buruk bisa
saja terjadi bila kita terlalu lama memendam sesuatu sendirian. Perlu
seseorang lain yang juga memahami perasaan tersebut.
Ibarat
sebuah gelas yang diisi air terus menerus tanpa meminumnya, lama
kelamaan akan tumpah juga air di gelas itu. Sama seperti manusia, ketika
ia ditimpa masalah terus menerus tanpa pernah menceritakannya dan hanya
memendamnya sendiri suatu saat pasti akan meledak juga.
Karena dari itu saya nggak pernah capek untuk
mengingatkan mereka untuk bercerita apapun yang mengganggu pikiran
mereka. Meskipun dengan bercerita tidak selalu dapat menyelesaikan
masalah, at least orang lain dapat memahami perasaan dan posisi kita. Dan saya yakin itu dapat membuat rasa beban berkurang dikit demi sedikit.
Saya harap...setiap orang tidak memendam masalahnya sendiri. Bercerita lah kepada seseorang yang dapat dipercaya. Seseorang yang mampu menjaga rahasia diantara keduanya. Dan...jadilah pendengar yang baik. Tanpa disadari sejujurnya semesta pun telah menunjukkan bahwa kita harus menjadi pendengar yang baik. Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut bukanlah tanpa maksud. Hal ini menunjukkan bahwa kita harus lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Selamat malam peeps dan selamat beristirahat! ^^