Ok, hm... where should I start. Sesuai janji saya akan cerita bagaimana pengalaman saya selama dua minggu di Jepang. Saya memang bukan orang yang pertama kali untuk dapat kesempatan berkunjung ke negeri orang khususnya ke negeri Sakura yang sudah pernah menjajah kita--Indonesia--selama 3,5 tahun.
Awal pertama mau berangkat rasanya nggak percaya. Memang saya berkunjung kesana bukan karena atas pencapaian prestasi saya atau gimana. Saya, ibu dan mas pergi kesana untuk mengunjungi bapak yang sedang bersekolah disana. Dan...saya menjadi tour guide dalam rangka perjalan juanda-haneda. Walaupun ada orang kantor juga yang nemenin sampai di pintu gate.
Disaat perjalanan menuju Tokyo sempat juga maag saya kambuh nggak karuan karena waktu itu jam lima sore dan saya terakhir makan saat jam lima tadi pagi. Dan akhirnya setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 12 jam (itu sudah satu jam lebih cepet dari yang dijadwal) saya mendarat dengan indah, selamat dan kedinginan di Bandara Haneda.
Cerita belum berakhir disitu saja. Setelah lolos dari bagian imigrasi dan menunggu barang bawaan saya. Terjadilah insiden koper yang berisikan baju saya dan ibu dan segala macam hal ada disitu hilang! (pake tanda seru biar lebih greget) Nah lo, mau ngomong apa juga. Sudah bahasa inggris pas-pasan. Apalagi ngomong bahasa Jepang. Sebagaimana yang kita tahu, orang Jepang sama kok kaya Indonesia. Susah ngomong bahasa inggris! Siapa bilang karena dia orang luar negeri terus bisa cas cis cus ngomong bahasa inggris? Nggak. Ketika beberapa petugas bandara yang cantik-cantik berusaha mengurus kehilangan koper saya--kemampuan berbahasa inggris mereka juga nggak jauh-jauh amat dari kemampuan bahasa inggris orang Indonesia. Untungnya saat itu ada staff KBRI yang menjemput saya sengaja masuk untuk membantu saya.
Nah, yang menarik dari cerita itu... Seperti yang saya bilang petugas bandara yang cantik-cantik itu bener-bener bekerja! Mereka nggak cuman ada disitu untuk nampang dan berikan senyuman kepada para pengunjung yang datang ke negeri mereka. Tapi mereka benar-benar bekerja secara profesional. Belum lagi Tokyo adalah kota yang tak pernah tidur. Bayangin aja gimana capeknya.
Setelah keluar dari bandara dan bertemu dengan bapak saya wajah saya nggak bisa berhenti dari yang namanya raut muka cemas. Beneran...cemas banget. Takut banget kalo itu koper nggak bakal ketemu. Sedih banget rasanya. Baru pertama berkunjung ke negeri orang, dan sekalinya dateng langsung disambut sama pengalaman yang nggak enak. Gimana bisa bibir ini tersenyum sumringah ketika pikiran masih melayang-layang. Ya nggak?
Saya menghabiskan waktu di Jepang selama dua minggu. Dan banyak banget esensi yang saya dapat kali ini. Bukan hanya sekedar jalan-jalan, seneng dan have fun. Tapi juga mengambil sesuatu yang baik yang sepantasnya kita contoh. Kalo memang baik kenapa nggak?
Seperti yang saya katakan tadi, saya bukan orang Indonesia yang pertama kali datang ke Jepang. Tapi sering sadar nggak sih kalo kita berkunjung disuatu tempat yang baru. Pasti ada perasaan unik dan menurut saya itu perlu kita contoh. Mereka sering lupa dengan hal-hal unik itu. Mereka cuma ngerasa itu unik karena itu budaya mereka dan--terkesan biasa saja.
Yang pertama adalah budaya jalan kaki. Mulai dari yang muda, tua, laki-laki, perempuan, cantik-ganteng, biasa aja semua jalan kaki. Kalo nggak jalan kaki yang naik sepeda. Sadar nggak sih bahwa sebenernya dengan berjalan kaki itu selain hemat diongkos, juga bikin kita sehat. Pasti pernah dong lihat iklan di TV kalo mau sehat itu jalan minimal 30 menit. Okelah mungkin orang bakal bilang bahwa kondisi jalan di Jepang berbeda 180 derajat sama di Indonesia. Nggak ada orang yang gengsi untuk jalan kaki. Mau bawa barang bagus-bagus dari mall, ganteng-ganteng, cantik-cantik, baju berkelas, high heels yang membuat setiap langkah mereka berbunyi tak tuk tak tuk. Masa kita yang cuma pengunjung aja gengsi untuk jalan kaki? Ini negara orang rek (red.aksen surabaya dari kata arek yang artinya adalah anak. biasanya ditujukan untuk para pemuda).
Kedua, enaknya lagi di Jepang adalah adanya kereta yang mempermudahkan kita untuk berkeliling Tokyo. Semua orang senang naik kereta. Mereka kemana-mana mudah karena semuanya sudah terhubung kemana-kemana. Asal kita bisa tahu kemana jurusan kita selanjutnya. Nggak bisa baca tulisan Jepang? Guys, gunakan smartphone kalian. Disana kan terletak aplikasi google maps. Gunakan dong. Darimana dan kemana kita akan pergi. Dan...nanti akan ditunjukkan kereta jurusan mana yang harus kita tumpangi.
Ketiga, ini nih satu lagi yang kayanya nggak ada kata nggak mungkin untuk ngelakuin yang satu ini. Yaitu...ngurus anak sendiri!!! (tanda serunya tiga biar semakin greget) Beneran lo ngurusin anak sendiri. Ya dibawa di kereta dorong, digandeng, digendong, ditaruh di keranjang sepeda untuk naruh anak. Intinya ngurus anak sendiri. Nggak ada yang namanya babysitter. Mau anaknya cuma satu atau berapa aja ya tetep diurus sendiri. Dan yang nglakuin bukan hanya si Ibu, tapi juga si Bapak. Ini negara maju loh. Dan masyarakatnya nggak malu untuk ngurus anak mereka sendiri.
Coba bandingin sama di negara kita. Semua orang kelewat kaya. Yang kaya semakin kaya, yang misikin juga jadi semakin miskin. Saking kayanya tuh orang, semua pekerjaan dilakukan oleh asisten rumah tangga, atau pembantu atau bahasa kasarnya pembokat. Dan urusan ngurus anak...bukan hal yang aneh lagi kan bagi kita untuk melihat di mall sebuah keluarga kecil yang anak mereka diurus oleh babysitter. Yang ngasih makan juga babysitter. Pokoknya semua serba babysitter. Beberapa dari mereka juga menggunakan jasa babysitter dengan alasan malas mengurus anaknya karena...jijik megang anaknya sendiri. Woy, sadar! Bangun-bangun...saya sadar bahwa saya memang masih belum cukup umur untuk punya KTP terlebih untuk menuliskan kalimat selanjutnya. Seolah-olah saya sudah pernah melakukannya saja. Tapi iya kan...konsekuensinya setelah kalian menikah, kan pasti ada anak. Dan anak adalah hasil dari darah daging kalian sendiri. Masa iya mau bilang jijik?
Lainnya adalah...mereka tetap menjaga budaya mereka dengan makan menggunakan sumpit. Kebanyakan dari kita tentu pernah mencoba makan dengan menggunakan sumpit. Restoran ala-ala jepang sudah bukan hal baru lagi bagi masyarakat Indonesia. Bahkan mungkin sudah menjadi santapan sehari-hari bagi para umat manusia yang suka berwisata kuliner. Tapi, tau nggak sih bahwa sumpit itu sendiri memiliki sebuah filosofi. Bapak saya pernah bertanya seorang teman mengapa orang jepang selalu menggunakan sumpit untuk makan. Baik untuk makan nasi, atau bahkan makan sesuatu yang berkuah. Semuanya pake sumpit. Dan...filosofi itu ternyata begini *jengjeng* (ceritanya backsound) ketika sendok sudah ada diperadaban, makan menggunakan sendok kan lebih mudah daripada menggunakan sumpit. Nah, kata para leluhur mereka yang namanya mencari makan itu susah--mendapatkan sesuap nasi kan membutuhkan usaha--jadi biar esensinya dapet atau bahasa gaulnya biar lebih greget makannya pake sumpit. Dan juga...karena benar-benar menjunjung tinggi filosofi mencari makan itu susah maka setiap makanan yang sudah dibeli harus dihabiskan. See? Pelajaran yang didapat adalah selalu syukuri apa yang kita makan. Mencari sesuap nasi itu butuh pengorbanan. Disaat kamu menghabiskan makanan dan membuang makanan karena tidak minat, inget...di luar sana saudara-saudara kita banyak yang nggak bisa makan. Let us say...Alhamdulillah. Selain itu mereka tetep cinta sama bahasanya. Buktinya adalah ketika mereka berinteraksi dengan turis luar negeri mereka nggak berusaha untuk berbicara dengan bahasa inggris. Malah cuek aja tetep ngomong pake bahasa mereka.
Dan...terakhir pelajaran yang saya dapat selama dua minggu di Jepang adalah mereka tipe pekerja keras. Seperti yang telah saya sampaikan diatas. Mereka bener-bener kerja keras. Pernah liat nggak drama korea atau drama jepang gitu kaya tokoh utamanya perempuan yang berkerja menjadi pelayan dan dia bekerja keras, keringat peluh jatuh berbulir-bulir dari dahi dan kening dan raut mukanya bener-bener yang--menurut saya itu indescribable banget. Raut muka dan gestur yang menandakan bahwa ia lelah tetapi ia tetap harus menjalankan ini semua. Sumpah waktu ngliat itu pelayan...saya ngerasa semua orang disini kalo kerja memang all out. Tapi...impas. Maksudnya dalam arti begini, Di Jepang ketika musim liburan telah tiba, mereka benar-benar off dari kerjaan mereka dan benar-benar fokus untuk refreshing baik dengan teman maupun keluarga. Menghabiskan waktu untuk berkumpul, makan bersama dan sharing di sebuah lingkaran meja makan dengan ditemani oleh gerlapan cahaya lampu yang berpendar menerangi kegelapan malam. Semua indah. Kalo nggak, mereka akan berkunjung ke tempat-tempat wisata bersama keluarga mereka.
Beda banget sama di kita. Waktu libur terkadang nggak benar-benar bisa maksimal karena masih direcokin sama tugas, pekerjaan, deadline. Belum lagi suasana pasti tambah kacau kalo atasan, teman telpon untuk mengingatkan pekerjaan itu. Rasanya lelah gitu ya. Sekali-kali aja deh pengen ngrasain yang namanya liburan tanpa ada gangguan.
Lihat, Jepang pernah terpuruk akibat tragedi Perang Dunia II ketika Sekutu menjatuhkan nuklir di Nagasaki dan Hiroshima. Tapi dalam kurun waktu yang tidak cukup lama, Jepang kembali bangkit. Ya itulah hebatnya Jepang, membuat infrastruktur yang bagus serta nyaman
dan semuanya untuk masyarakat. Mulai dari transportasi seperti kereta yang memudahkan kita untuk berkeliling tokyo dan juga bus nya. Selain itu Jepang juga mikirin tempat resfreshing untuk masyarakat. Nggak cuma selalu bikin mall dan mall. Tapi juga banyak taman-taman kota dan tempat wisata. Jepang juga mereka menerapkan pajak yang tinggi. Makanya jarang banget nemuin rumah-rumah gedong kaya di kota besar semisal Jakarta atau Surabaya. Rumah disana kecil-kecil. Strategi mereka untuk menarik masyarakat untuk lebih memilih jalan kaki, naik sepeda atau naik bus maupun kereta ya adalah dengan memberikan pajak mobil dan pajak parkir mobil yang sangat-sangat tinggi. Dengan sedikitnya volume kendaraan pribadi, maka bisa lebih meminimalisir yang namanya polusi. Dan sekali lagi, jalan kaki lebih hemat dan bikin sehat! Mungkin itu jawaban kenapa orang-orang Jepang tetap sehat di usia senja.
Saya nggak mau bilang negara mana yang paling bagus. Sebegimanapun jauhnya saya nanti dari bumi pertiwi ini, saya tetep cinta dengan semua yang ada di Indonesia. Ribuan gugusan pulau yang indah yang hingga sampai saat ini saya masih pengen banget buat muter-muter kesana. Tau yang namanya unik? Sebuah negara pasti memiliki keunikan tersendiri. Mungkin kalau ada turis dateng ke negara kita, mereka bakal anggap negara kita unik. Mulai dari keramahan yang nggak pernah kalian bisa dapet di negara manapun di belahan dunia ini. Cuma orang Indonesia yang mau ngasih tau arah jalan pulang. Bukan jalan pulang menuju hati seseorang tapi. Semua barang-barang di Indonesia yang unik, dan harganya yang murah. Selain itu, siapa bilang mereka nggak akan tertegun liat ojek, bajaj sama becak? Enak kan naik ojek atau bajaj atau becak. Walaupun kalo naik ojek sedang banjir nanti jadi becek, tapi kan enak dianterin sampai didepan rumah.
Tapi...kenapa sih kita nggak nyoba untuk mencontoh hal-hal baik dari orang Jepang. Memang semuanya nggak benar-benar bisa kita implementasikan disini. Semisal kaya jalan kaki. Kita nggak bakal bisa menuntut orang untuk berjalan kaki bermil-mil jauhnya. Karena memang fasilitas untuk pejalan kaki belum memadai. Dan cuaca yang kalo nggak hujan ya panas. Karena Indonesia adalah negara dengan iklim tropis yang terletak di garis khatulistiwa. Tetapi...minimal...kita bisa naik angkot/bemo untuk berpergian kemana-mana. Itung-itung juga ngirit uang bensin. Ya kan?
Saya juga bercita-cita banget suatu saat Indonesia bakal tumbuh bukan lagi jadi negara berkembang tapi menjadi negara maju dan masih mengingat warisan budaya nenek moyang. Saya yakin Indonesia pasti bisa. Dan saya juga nggak akan ngerubah sistem demokrasi yang digunakan oleh Indonesia. Buat saya, demokrasi Pancasila sudah benar-benar sesuai dengan kepribadian bangsa kita. Hanya, para oknum-oknum diluar sana saja yang tidak mampu mengimplementasikan dengan sungguh-sungguh. Semoga pemerintah juga bisa tambah peduli sama rakyatnya. Sayang sama rakyatnya, juga membangun infrastruktur yang enak dan nyaman buat rakyat. Cinta Indonesia ♥
Pesan saya sih, selalu bekerja keras dan iringi lah dengan doa. Terus jangan lupa, buang sampah pada tempatnya. Tau kan hal kecil mampu mengubah negeri ini. Kalo bukan kita yang melakukan lalu siapa lagi? Mengatasi Ibukota yang selalu ditimpa musibah banjir setiap lima tahun bukan hanya tugas Pemprov DKI, tapi juga kita--masyarakat yang harus buang sampah pada tempatnya. Semoga saudara-saudara kita yang tengah tertimpa musibah banjir diberikan ketabahan dan semoga banjirnya cepat surut. Amin...
Doakan minggu depan saya akan mulai menghadapi test pertama di tahun 2014. UH jerman, pkn, belajar mat. Semoga diberi kemudahan dan kelancaran oleh Allah. Mohon doanya yah ^^ Dah!
