Well, um sebenernya kenapa saya nuiat banget untuk ngebahas ini tuh karena saya beberapa bulan terakhir memang sering mengamati kasus ini.
Kita emang nggak bisa memungkiri dengan semakin berkembangnya zaman terutama di zaman globalisasi seperti ini, mau tidak mau kita dituntut untuk selalu mengikuti perubahan-perubahan yang ada. Nah, salah satunya adalah sosial media. Sebenernya sih tujuan awal sosial media itu bagus lo. Untung memudahkan kita berkomunikasi dengan perbedaan jarak dan waktu. Kita juga bisa sharing dengan teman kita yang mungkin berasal dari kota atau negara lain.
Macam dari sosial media itu banyakkk banget. Semuanya itu tujuan utamanya adalah memudahkan dan saling berbagi. Saya rasa seperti itu. Mulai dari yang awalnya friendster kemudian berlanjut dengan facebook, twitter, plurk, formspring, foursquare, tumblr, path. Media chatting mulai dari yahoo messenger, skype, whatsapp, line, wechat, kakaotalk dsb. Dan juga yang terakhir, instagram. Jujur aja sih ya, dari semua sosial media yang sudah saya sebutin diatas, saya punya 10 termasuk dengan blog ini loh! Hahahaha... (If you want to be one of my social media's friend, just ask me personally (-;) Biasalah, harap dimaklumi...namanya juga anak muda. Sebenernya saya bikin whatsapp dan line karena saya kadang ketinggalan berita kalo cuma ngandelin bbm (red.blackberry messenger) yah, sebagai pelajar saya cuma nge-aktifin disaat hari sabtu-minggu aja :D
Dengan punya sosial media yang sebajek seperti itu, saya udah deh cukup nggak mau nambah-nambah lagi. Memang ya, sosial media itu tergantung dengan bagaimana cara kita untuk menggunakan sosial media tersebut. Nggak sedikit orang yang bilang bahwasanya sosial media itu lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Tapi ya nggak juga. Buktinya saya ketika masuk di bangku SMA, sudah ada beberapa teman yang saya sudah tau sebelumnya melalui sosial media. Hehehehehe...
Tapi entah kenapa ya...menurut pandangan saya kok sekarang sosial media malah berubah fungsi. Ya nggak sepenuhnya juga sih. Somehow, beberapa orang menggunakan sosial media untung ajang show off atau pamer. Saya bukannya mau nge-judge siapapun. Suer! Karena menurut saya, memang ada benarnya juga. Terkadang disadari atau tidak kita menunjukkan sesuatu atau privasi kita ke masyarakat umum.
Yang paling gampang untuk kita jadikan tempat pembuktian itu ya instagram. Sedikit banyak emang kita 'setengah' pamer. Tapi kan ya ada porsinya masing-masing. Bukan berarti saya melarang kalo misalnya ada sebagian orang yang memang sepenuhnya ingin kehidupannya diketahui oleh masyarakat luas. Fine-fine aja sih. Cumanya lagi yaaa...kadang yang jatuhnya malah jadi ilfeel itu kalo udah masang foto sama pacar berdua (yaiyalah, masa sekampung-_-) terus posenya muesra-muesra gitu. Ok, you may say I'm jealous. Buttt, hey guysss...don't you realize something can change in a second. Got my point? I don't know why nowadays people seems like trying to compete each other to show off by using social media.
Dan yang lucu lagi kalo udah curhat di sosial media. Wuaduuuh, that's the mainstream thing to do dear :-) People in the out there will know your problem even if they don't know what actually happen with you. Anddd, let me give an advice...if you have a problem about a romance (that's the most teen's problem); like fight, broke up, friendzone, he doesn't care or sensitive or anything else...I hope you don't write down your problem in the social media. Dear, don't you understand? Someone out there whom maybe get an interested with you will maybe take a few time to think twice he'll get close to you or not. So don't wasted your tears. Life must go on, go ahead! Just keep thinking positive if Allah will give you someone better :-)
Theeen, about the unemployment. Uh, is there any right word to tell a person who don't have any activities except spending their whole life just to sit and talk about 'them'. Well, let me tell you who is 'them'. Okay, first you should know if many girls, women in the out there reallyreally interested with 'man-with-brown-uniform'. For this part I'll consciously tell you with english (ps: sorry for the bad grammar). Did you ever heard about 'gitar'? Gitar isn't a guitar in Indonesian. But, that's the way we called girls who crazy with 'man-with-brown-uniform'. I think they're reallyreally crazy. They make a relationship from this one and then the sr or maybe on the next month with the jr. Anddd, they just like a reporter I think-_- they always give a live report about her 'boyfriend'. Don't you knowww, if you will getting married with them...his first duty is for this nation, to keep away from the enemies. And his life maybe taken away at anytime. Am I right? Uh...and theeennn...you just his 'sisun'. Why can you so sure if you'll be his wife to stand beside him until the day of separation. I bet you've already known too about their role game... Nanana... And youuu, post of every single pic that you took with your boyfriend... It's okay, but when it's too much don't you feel lil bit like 'um, this is weird-_-' haha... No one will give a guarantee to you if you'll be his wife and also you boyfie's carrier. We must build this up with carefully.
So, the conclusion is... Now we live in a world that can know people's story from social media. Because many people say bye-bye to privacy and choose to tell their problem in social media. Somehow they just write everything that comes and pop up in their mind without think twice.
Rabu, 31 Juli 2013
Rabu, 17 Juli 2013
Viva La Sociale~
Hoaaammm...
Akhirnya, setelah tiga minggu terlelap tenggelam dalam lautan liburan saya terbangun juga! Hahahahaha :)) (halah-_-) I just can't believe if tomorrow I'll have juniors! Wohoooo *tiupterompet* *nyumetpetasan* (oke ini alay, hentikan) Sebenernya sih bukan karena besok saya sudah jadi kakak kelas *ehem* *benerin dasi* tapitapitapi...kok rasanya satu tahun itu cuepeeettt banget ya. Hehehehehe. Ya gini ini manusia, dulu pengen cepet-cepet berlalu tapi begitu udah dikasih kok rasanya cepet. Semacam gak nyangka gitu ya hehehehehe. Yang saya pengen sih bukan karena mau ina ini itu...nggaaak, bukannn :') saya cuma bahagia aja akhirnya saya sekarang terlepas dari mapel IPA. Yayyy! It's gonna be good yay yay yay~ As I told before, saya emang dari awal niatnya udah kekeuh buat masuk IPS. Dengan segala macam tetek bengek yang sudah saya pikirkan sebelumnya. Salah satunya ya resiko yang didapat. Dari dulu kan yang namanya anak IPS gak punya kesempatan untuk mengambil jurusan IPA pada saat kuliah, tapi tidak dengan sebaliknya. Ya ditatakin ajadeh. Semoga apa yang sudah saya pilih dapat menjadikan saya lebih sukses dikedepannya (amiiin)
Nah, kalo yang namanya kelas IPS tuh kan pasti udah bawaannya orang underestimate aja. Daridulu image anak sosial emang anak buangan. Anak-anak yang nggak bisa masuk ke kelas sains. Buat saya, entah sains atau sosial sama bagusnya kok. Keduanya membutuhkan pemikiran yang luas juga. Sama-sama berat. Di sosial kita nggak cuma menghapal kan? Ekonomi, ada saat kita harus berhitung. Contoh, menghitung GDP, fungsi konsumsi&tabungan dll. Di geografi juga ada berhitungnya. Okelah, mungkin dalam hal berhitung anak sains jauh lebih jago daripada kita yang anak sosial. Tapiii yaaa...walaupun kita anak sosial, entah itu masuk karena keinginan sendiri atau terbuang atau gimana. Kita harus tetep tunjukkin kalo kita juga bisa sama atau bahkan lebih berprestasi dari anak sains. Saya sih dapet wejangan dari kakak saya (murid bapak yang sudah kaya kakak sendiri) berbagai macam hal. Termasuk salah satunya bagaimana saya bukan hanya bisa survive tetapi juga berprestasi walaupun anak sosial. Dulu sih dia udah saranin saya untuk masuk sains terus baru kuliahnya ambil sosial. Karena, dulu sebelum dia jadi kadet dia mantan anak fak.hukum undip.
Sekalian tips nih untuk anak-anak sosial biar kita bisa sama-sama sukses :D Intinya kakak bilang, dengan anak sosial yang sudah punya image buruk...kita harus merubah image itu.
> Salah satu caranya adalah aktif. Aktif dalam organisasi, ekstrakulikuler maupun ajang perlombaan. Organisasi dapat membuat kita lebih tanggap dan mudah memahami apa yang ada disekitar kita. Ekstrakulikuler, jangan salah...jika kita sungguh-sungguh dan tekun yang mulanya hanya sebuah hobi bisa menjadikan kita berprestasi. Perlombaan, kalo yang ini sih pasti...ikutin ajadeh lomba-lomba apapun. Kalah menang urusan terakhir. Yang penting punya pengalaman...biar ada ceritanya, hehehe. Lagian, kalo kita punya banyak sertifikat...minimal bisa dijadikan nilai plus bagi universitas yang akan menerima siswa dari jalur undangan (red.SNMPTN)
> Kemudian...kita harus menambah wawasan kita. Sering membaca buku! Mengikuti perkembangan baik di lingkup nasional ataupun iternasional. Minimal ngikutin deh, biar waktu ada orang ngajak ngobrol kita bisa nyambung. Apalagi kalo yang ngajak diskusi gebetan kita...waaah, si doi pasti kan seneng banget ngliat kita ternyata smart...walaupun anak sosial ;) hehehehehe :p
> Terusss...kita sebagai anak sosial harus bisa mengerti, membaur dengan keadaan sekitar. Dapat memahami kondisi seseorang. Atau dapat menganalisis suatu permasalahan dengan pendekatan antara satu sama lain untuk mengetahui kira-kira apa penyebab orang tersebut melakukan suat masalah itu tadi. Halah ribet ya. Hahahahaha. Gitudeh... Kata kakak, kita harus bisa belajar menjadi seorang pendengar yang baik. Minimal kita dengerin curhatan temen, syukur-syukur kalo bisa ngasih solusi yang pas buat dia. Kalo sudah gitu, orang jadi mempercayakan kita. Dan senang juga karena turut bisa membantu menyelesaikan masalah teman :D
Itu aja sih...next post I'll write about my 3weeks of holiday. Semoga yang diatas bisa bermanfaat ya. Hehehe... VIVA LA SOCIALE~ :D
Akhirnya, setelah tiga minggu terlelap tenggelam dalam lautan liburan saya terbangun juga! Hahahahaha :)) (halah-_-) I just can't believe if tomorrow I'll have juniors! Wohoooo *tiupterompet* *nyumetpetasan* (oke ini alay, hentikan) Sebenernya sih bukan karena besok saya sudah jadi kakak kelas *ehem* *benerin dasi* tapitapitapi...kok rasanya satu tahun itu cuepeeettt banget ya. Hehehehehe. Ya gini ini manusia, dulu pengen cepet-cepet berlalu tapi begitu udah dikasih kok rasanya cepet. Semacam gak nyangka gitu ya hehehehehe. Yang saya pengen sih bukan karena mau ina ini itu...nggaaak, bukannn :') saya cuma bahagia aja akhirnya saya sekarang terlepas dari mapel IPA. Yayyy! It's gonna be good yay yay yay~ As I told before, saya emang dari awal niatnya udah kekeuh buat masuk IPS. Dengan segala macam tetek bengek yang sudah saya pikirkan sebelumnya. Salah satunya ya resiko yang didapat. Dari dulu kan yang namanya anak IPS gak punya kesempatan untuk mengambil jurusan IPA pada saat kuliah, tapi tidak dengan sebaliknya. Ya ditatakin ajadeh. Semoga apa yang sudah saya pilih dapat menjadikan saya lebih sukses dikedepannya (amiiin)
Nah, kalo yang namanya kelas IPS tuh kan pasti udah bawaannya orang underestimate aja. Daridulu image anak sosial emang anak buangan. Anak-anak yang nggak bisa masuk ke kelas sains. Buat saya, entah sains atau sosial sama bagusnya kok. Keduanya membutuhkan pemikiran yang luas juga. Sama-sama berat. Di sosial kita nggak cuma menghapal kan? Ekonomi, ada saat kita harus berhitung. Contoh, menghitung GDP, fungsi konsumsi&tabungan dll. Di geografi juga ada berhitungnya. Okelah, mungkin dalam hal berhitung anak sains jauh lebih jago daripada kita yang anak sosial. Tapiii yaaa...walaupun kita anak sosial, entah itu masuk karena keinginan sendiri atau terbuang atau gimana. Kita harus tetep tunjukkin kalo kita juga bisa sama atau bahkan lebih berprestasi dari anak sains. Saya sih dapet wejangan dari kakak saya (murid bapak yang sudah kaya kakak sendiri) berbagai macam hal. Termasuk salah satunya bagaimana saya bukan hanya bisa survive tetapi juga berprestasi walaupun anak sosial. Dulu sih dia udah saranin saya untuk masuk sains terus baru kuliahnya ambil sosial. Karena, dulu sebelum dia jadi kadet dia mantan anak fak.hukum undip.
Sekalian tips nih untuk anak-anak sosial biar kita bisa sama-sama sukses :D Intinya kakak bilang, dengan anak sosial yang sudah punya image buruk...kita harus merubah image itu.
> Salah satu caranya adalah aktif. Aktif dalam organisasi, ekstrakulikuler maupun ajang perlombaan. Organisasi dapat membuat kita lebih tanggap dan mudah memahami apa yang ada disekitar kita. Ekstrakulikuler, jangan salah...jika kita sungguh-sungguh dan tekun yang mulanya hanya sebuah hobi bisa menjadikan kita berprestasi. Perlombaan, kalo yang ini sih pasti...ikutin ajadeh lomba-lomba apapun. Kalah menang urusan terakhir. Yang penting punya pengalaman...biar ada ceritanya, hehehe. Lagian, kalo kita punya banyak sertifikat...minimal bisa dijadikan nilai plus bagi universitas yang akan menerima siswa dari jalur undangan (red.SNMPTN)
> Kemudian...kita harus menambah wawasan kita. Sering membaca buku! Mengikuti perkembangan baik di lingkup nasional ataupun iternasional. Minimal ngikutin deh, biar waktu ada orang ngajak ngobrol kita bisa nyambung. Apalagi kalo yang ngajak diskusi gebetan kita...waaah, si doi pasti kan seneng banget ngliat kita ternyata smart...walaupun anak sosial ;) hehehehehe :p
> Terusss...kita sebagai anak sosial harus bisa mengerti, membaur dengan keadaan sekitar. Dapat memahami kondisi seseorang. Atau dapat menganalisis suatu permasalahan dengan pendekatan antara satu sama lain untuk mengetahui kira-kira apa penyebab orang tersebut melakukan suat masalah itu tadi. Halah ribet ya. Hahahahaha. Gitudeh... Kata kakak, kita harus bisa belajar menjadi seorang pendengar yang baik. Minimal kita dengerin curhatan temen, syukur-syukur kalo bisa ngasih solusi yang pas buat dia. Kalo sudah gitu, orang jadi mempercayakan kita. Dan senang juga karena turut bisa membantu menyelesaikan masalah teman :D
Itu aja sih...next post I'll write about my 3weeks of holiday. Semoga yang diatas bisa bermanfaat ya. Hehehe... VIVA LA SOCIALE~ :D
Label:
My Life,
School and Friends,
Sharing an Opinion
Langganan:
Komentar (Atom)
